BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah outlet yang menjajakan kuliner tradisional di tepi Jalan Kampus UMK, Desa Dersalam terlihat menarik minat pembeli. Getuk yang saat ini jarang diperjualbelikan, menjadi daya tarik tersendiri bagi semua kalangan.
Baik remaja hingga dewasa bahkan tampak silih berganti berdatangan untuk membeli kudapan di outlet Getuk Jowo tersebut. Apalagi pilihan getuk yang tersedia ada belasan jenis.
Baca Juga: Teknologi RDF Rp4,5 M Segera Diterapkan di TPA Tanjungrejo Kudus, Segini Kapasitasnya
Titik Hartini (46), penjaga outlet mengatakan, sejak buka sebulan terakhir, outlet di sana menjadi buruan pecinta kuliner tradisional. Bahkan dagangan yang ia jajakan selalu laris manis dan terjual habis tanpa sisa.
“Alhamdulillah untuk jajanan tradisional ini banyak peminat dan laris manis. Walaupun baru buka satu bulan ini, penjualan selalu ramai,” bebernya saat ditemui, Sabtu (20/9/2025).
Saking larisnya, penjualan setiap harinya mampu menjual antara 100 hingga 150 porsi. Terlebih ketika ada pesanan jumlah penjualan bisa tembus 200-250 porsi.
“Untuk pembeli dari semua kalangan, ada ibu-ibu, bapak-bapak, ada pula remaja. Karena ini makanan lama, jarang yang jual, jadi harus kita lestarikan. Apalagi bikin getuk jowo itu ribet dan capek, jadi tidak semua orang bisa. Tapi Alhamdulillah peminatnya justru banyak sekali,” ungkapnya.
Ia menyebut, menu yang dijual ada beragam jenis, lebih tepatnya ada 18 macam. Mulai dari tiwul, ketan, puli, klepon, putu mayang, dan masih banyak lainnya. Satu porsinya dibandrol dengan harga Rp5 ribu.
“Pembeli juga bisa request pilihan getuk apa saja yang akan dipilih. Bisa dua macam atau tiga macam bahkan selebihnya. Kalau paling banyak diminati adalah tiwul, puli, dan ketan,” tuturnya.
Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani Diganti Purbaya, Begini Tanggapan Pengusaha Rokok di Kudus
Selain berjualan di Dersalam, penjualan kuliner tradisional itu juga membuka cabang di beberapa tempat, di antaranya Loram, Bulungcangkring, Pasar Doro, dan Getas Pejaten. Setiap hari, dagangannya nyaris tak pernah tersisa.
“Jualan selalu habis, kadang jam setengah lima sore sudah selesai, kadang sampai magrib,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

