BETANEWS.ID, KUDUS – Nasib tragis dialami oleh Triman Mugiardi, mantan atlet asal Kabupaten Kudus. Setelah menorehkan berbagai prestasi cabang olahraga (cabor) atletik sebelumnya, kini ia terpaksa menjalani kehidupan sebagai kuli panggul di Pasar Bandungan, Kabupaten Semarang.
Bahkan berkat prestasinya di cabor atletik, ia sempat mendapat tawaran untuk menjadi seorang TNI. Meski begitu, dia lebih memilih untuk berfokus menjadi atlet pada saat itu.
Baca Juga: Kisah Hasan Si Pelukis Daun Jati Jepara, Ubah Limbah Jadi Karya Seni
Ketua Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (Pasi) Kudus, Firdaus menyampaikan, sosok Triman merupakan salah satu atlet berbakat yang pernah dimiliki Kudus. Bahkan pada usia muda, ia sempat masuk dalam skuad Timnas Indonesia cabor atletik untuk kejuaraan junior kala itu.
“Dia itu punya prestasi luar biasa. Pernah ikut pelatnas dan jadi bagian dari timnas junior. Prestasinya dimulai 2005 membawa dua emas di Porprov Jateng dari nomor lari 100 meter dan lompat jauh,” bebernya.
Tak berhenti disitu, Porprov 2009 ia meraih satu medali emas dari lompat jauh dan satu medali perak dari lompat jangkit. Namun 2013, Triman sempat rehat dari dunia atlet. Dia kembali lagi 2018 dan berhasil finis posisi ke empat dalam kejuaraan Porprov itu.
“Memang sejak bekerja, intensitas latihannya sebagai atlet profesional berkurang. Waktu itu dia sudah bekerja sebagai satpam, tapi tetap melatih anak-anak di Kudus meski tinggal di Ungaran karena sudah menikah sejak 2013,” ungkapnya.
Sayangnya, kehidupan setelah pensiun dari dunia atletik tidak semudah yang dibayangkan. Pada 2021, Triman diketahui mulai bekerja sebagai kuli panggul di Pasar Bandungan. Firdaus mengetahui kabar tersebut saat secara tidak sengaja bertemu dengan Triman di Semarang.
“Dia bilang dapat penghasilan 150 ribu sampai 200 ribu per hari, dari siang sampai sore. Kadang pagi dia masih sempat melatih atletik di Salatiga,” tuturnya.
Sementara itu, Triman Mugiardi mengaku, mulai menekuni atletik sejak 2000, setelah lulus sekolah dasar (SD). Menurutnya, di dunia atletik ia juga mendapatkan beasiswa penuh selama menempuh pendidikan mulai SMP hingga SMA.
“Paling berkesan pada saat jadi atlet, mendapat beasiswa, bisa sekolah gratis. Itu sangat membantu saya dan keluarga,” terangnya.
Bahkan, ia pernah ditawari menjadi anggota TNI dan mendapat beasiswa kuliah karena prestasinya. Namun, Triman kala itu lebih memilih fokus menjadi atlet.
Salah satu pengalaman yang tidak terlupakan bagi Triman adalah mengikuti training camp di Australia pada 2003 silam di usianya yang masih muda.
“Di sana saya belajar banyak dari pelatih asal Kuba. Ilmu tentang teknik dan strategi atletik sangat bermanfaat bagi saya,” ujarnya.
Baca Juga: Linda, Perantau Surabaya yang Sukses Jualan Telur Gulung di Kudus
Di tengah beratnya beban hidup, Triman kini masih mengabdikan dirinya pada dunia atletik. Setiap pagi hingga siang, ia melatih atlet-atlet muda Salatiga, lalu lanjut bekerja sebagai kuli panggul hingga malam hari.
“Meski sekarang jadi kuli panggul, saya tetap cinta dunia atletik. Saya ingin anak-anak yang saya latih bisa lebih sukses dari saya,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

