BETANEWS.ID, PATI – Angka kasus HIV/AIDS di Kabupaten Pati menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Hingga Juni 2025, jumlah pengidap yang tercatat mencapai 926 orang.
Data ini berasal dari pendampingan intensif yang dilakukan oleh Rumah Matahari Pati, lembaga yang sejak 2011 aktif dalam pendampingan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Baca Juga: Sebut Pelayanan di RSUD Soewondo Sudah Lebih Baik, Sudewo: ‘Ramah dan Tidak Judes’
Koordinator Rumah Matahari, Ari Subekti menyampaikan, bahwa dari total jumlah tersebut, saat ini hanya 550 orang yang masih rutin menjalani pengobatan atau terapi retroviral (on art).
“Dari data yang kami dampingi sampai bulan Juni 2025 ini, sebanyak 926 kasus,” ujar Ari, Sabtu (28/6/2025).
Namun, tidak semua dari mereka masih berada di bawah pendampingan Rumah Matahari. Sejumlah kasus mengalami putus kontak karena berbagai alasan, mulai dari pindah domisili hingga meninggal dunia.
“Dari 926 kasus itu, on art atau yang minum obat secara rutin itu sebanyak 550 orang. Sisanya ada yang pindah luar kota, putus obat, dan ada juga yang meninggal,” ungkapnya.
Ari menjelaskan, semua data kasus yang tercatat merupakan hasil rujukan dari fasilitas layanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas.
“Jadi ketika rumah sakit, puskesmas atau layanan yang lain menemukan kasus itu rujukannya disampaikan ke rumah matahari,” jelasnya.
Peta sebaran kasus HIV/AIDS mencakup seluruh kecamatan di Pati. Namun, ada dua kecamatan yang masuk zona merah karena jumlah kasusnya paling tinggi, yakni Kecamatan Juwana dan Kecamatan Pati.
Baca Juga: 952 Jemaah Haji Pati Masih di Tanah Suci
Rumah Matahari pun tak tinggal diam. Mereka telah memetakan faktor penyebab penyebaran HIV/AIDS berdasarkan wilayah. Di Pati Selatan, kasus banyak muncul dari warga perantauan. Sementara di Pati Utara, tingginya angka pekerja seks menjadi penyumbang kasus. Adapun di Pati Tengah, gaya hidup menjadi faktor dominan.
Menurutnya, situasi ini menjadi pengingat penting bahwa edukasi, deteksi dini, dan pendampingan harus terus diperkuat, agar penyebaran virus ini dapat ditekan dan para penyintas bisa mendapatkan dukungan yang layak.
Editor: Haikal Rosyada

