BETANEWS.ID, KUDUS – Forum Kamis Legen (Kalen) menggelar webinar dengan tema “Paradigma Pengeloaan Energi Berkelanjutan”, Kamis (26/6/2025) malam. Webinar menghadirkan Chanel Tri Handoko, dosen di Universitas Sebelas Maret, sebagai narasumber.
Hadir pula Pendiri Forum Kalen, Djoko Herryanto, sebagai keynote speaker, Anggota DPRD Kudus, Valerie Yudistira, sebagai host dan Dosen STAI Al-Hidayat Rembang, Sugiharyadi, sebagai moderator acara.
Acara yang dihadiri sekitar 43 peserta secara daring ini, diawali survei oleh Chanel, yang diikuti oleh para peserta. Dalam survei yang dilakukan secara daring, menunjukkan sebagian besar peserta sangat setuju beralih menggunakan energi terbarukan. Di salah satu pertanyaan lain, hasil survei menunjukkan, hampir semua peserta menyatakan, tanggung jawab transisi peralihan dari penggunaan energi fosil ke energi terbarukan, merupakan tanggung jawab pemerintah.
Baca juga: Forum Kalen Gelar Webinar, Hadirkan Prof Rosyid, Angkat Islam Tarjumah
“Energi di era modern ini memang menjadi kebutuhan primer. Kalau dulu kita diajarkan kebutuhan primer meliputi sandang, pangan dan papan, sekarang kita bangun tidur saja nyarinya handphone kan? Memang saat ini kita tidak bisa lepas dari energi. Tapi, apakah kita bisa beralih dari energi fosil ke energi terbarukan? Lalu bagaimana potensinya di Indonesia?” Ujar Chanel menanggapi hasil survei yang menanyakan ketergantungan peserta pada energi listrik.
Chanel yang juga merupakan Tenaga Ahli Komisi XII DPR RI tersebut menjelaskan, Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) yang sangat besar. Jenis potensi energi yang dimiliki juga sangat beragam. Potensi energi tersebut di antaranya, ada matahari, angin, air, geotermal, bioenergi, dan lain sebagainya.
“Kita punya potensi energi air atau hydro yang tersebar di seluruh Indonesia, khususnya di Kalimantan Utara, Aceh dan Papua. Kita juga punya potensi energi sinar matahari atau solar yang tersebar di Nusatenggara Timur, Kalimantan Barat, Riau, yang memiliki radiasi yang tinggi. Kita juga potensi EBT yang lain sangat melimpah, dan tersebar ddi seluruh wilayah,” ujarnya.
Menurut Chanel, EBT bisa menjadi solusi ketergantungan masyarakat terhadap energi fosil yang ketersediaannya semakin berkurang dan tidak ramah lingkungan. Berdasarkan data di Kementrian ESDM, pada tahun 2021, konsumsi energi listrik di Indonesia mencapai 1.123 kwh/kapita. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 1.080 kwh/kapita. Sedangkan pada tahun 2019, jumlah konsumsi energi listrik mencapai 1.084 kwh/kapita.
“Saya sepakat dengan hasil survei di awal tadi, pemerintah memang harus segera membuat peralihan dari energi fosil ke energi terbarukan. Toh energi dari sumber minyak, kita mengimpor dari luar negeri, Singapura,” tuturnya.
Untuk mewujudkan peralihan ke energi terbarukan, Chanel mendorong pemerintah segera membuat undang-undang agar percepatan peralihan energi terbarukan memiliki regulasi yang jelas. Sehingga, potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia bisa dimanfaatkan. Sudah saatnya Indonesia tidak bergantung pada energi fosil yang tidak ramah lingkungan.
Baca juga: Gairahkan Sastra Pesisir, Forum Kalen Wadahi Pemuda Sluke Lewat Klinik Sastra
Dalam sesi tanya jawab, peserta bernama Anto Prabowo menyatakan, sebenarnya masyarakat di Indonesia sudah sangat siap beralih ke energi terbarukan. Namun kebijakan yang ditempuh pemerintah selama ini selalu top down, sehingga peralihan energi ini sangat sulit didorong.
“Kita lihat saja MBG (makan bergizi gratis), inipun dilakukan secara top down. Program hanya dikuasai pemerintah dan partai-partai politik,” tegasnya.
Menanggapi pernyataan tersebut, Chanel mengatakan, dirinya mengakui bahwa percepatan peralihan energi terbarukan di Indonesia mengalami banyak hambatan. Selain di ranah regulasi, teknologi dan pembiayaan juga menjadi hambatan. pertumbuhan ekonomi juga sering kali meleset dari target yang ditentukan.
“Peralihan energi terbarukan saat ini memang menemui banyak hambatan. Selain hambatan-hambatan tersebut, arah kebijakan terkait energi juga sering berubah-ubah,” tuturnya.
Editor: Suwoko

