Gongcik, Perpaduan Silat dan Musik Tradisional yang Tetap Eksis di Pasucen Pati

BETANEWS.ID, PATI – Di balik geliat modernisasi yang terus menggerus budaya di berbagai penjuru Negeri, ada satu tradisi unik yang tetap bertahan di Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati. Namanya Gongcik, sebuah kesenian langka yang menjadi warisan turun-temurun warga. Bagi masyarakat setempat, Gongcik bukan sekadar tontonan, ia adalah identitas, sekaligus sejarah perjuangan.

Gongcik merupakan seni pertunjukan yang menggabungkan bela diri dengan irama musik tradisional. Namanya berasal dari dua kata, Gong, alat musik utama dalam gamelan, dan Encak Encik, istilah lokal untuk silat khas Jawa.

Baca Juga: Gandrung Sastra Sukses Pentaskan Monolog ‘Jabrik’ di Rejosari Kudus

-Advertisement-

Dalam pertunjukannya, Gongcik menyuguhkan atraksi tarung yang dikemas indah layaknya tarian. Gerakan silat yang lincah berpadu dengan iringan kendang, jidor, bonang (disebut ningnong oleh warga), serta gong, menciptakan suasana magis yang menggugah penonton.

“Sebenarnya encak encik ada di beberapa daerah di Pati. Namun untuk di Pasucen karena diiringi musik maka dikenal sebagai Gongcik,” ujar Ahmad Fauzi, Pelestari Gongcik.

Pria yang acap disapa Osenk itu menjelaskan, iringan musik Gongcik menyerupai pengiring barongan, meski ada nuansa berbeda. Kekuatan Gongcik bukan hanya pada pukulan dan tangkisan, tetapi juga dalam keindahan koreografi yang kini digarap lebih serius tanpa melupakan akar bela dirinya.

“Tak hanya di musik yang membedakan. Gongcik juga telah digarap secara koreografinya meski tidak meninggalkan dasar-dasar beladiri,” imbuhnya.

Jejak sejarah Gongcik membentang hingga masa penjajahan Belanda. Menurut cerita turun-temurun, warga menggunakan seni ini sebagai bentuk latihan bela diri tersembunyi. Untuk menyamarkan tujuannya dari pengawasan penjajah, mereka membungkusnya dalam bentuk pertunjukan seni.

Dirinya menyebut, kesenian Gongcik ini sudah ada sejak 1835. Pada era tersebut, Gongcik sering dimainkan oleh warga.

“Kami bersyukur di Pasucen masih bertahan hingga sekarang. Berdasarkan penelitian dari temen-temen, kesenian ini sudah ada sejak tahun 1835,” sebut Osenk.

Gongcik tak hanya hadir dalam perayaan biasa. Ia menjadi bagian penting dari agenda spiritual dan budaya masyarakat Pasucen. Setiap menjelang Suro atau malam 1 Suro, Gongcik ditampilkan sebagai bagian dari haul Mbah Wiropadi, tokoh leluhur desa. Tak jarang juga Gongcik tampil dalam hajatan, sedekah bumi, hingga pernikahan.

“Kalau dulu biasanya untuk pembuka sebelum Mandailing. Latihannya dulu di langgar kemudian diajak berjalan menuju ke makam Mbah Wiropadi dengan menggunakan penerangan obor. Setiap di persimpangan jalan berhenti dan main untuk menarik warga sambil memainkan gong. Barulah sampai makam kemudian doa bersama,” kenang Osenk.

Tradisi pertunjukan ini diawali dengan bancakan atau doa bersama. Kemudian pertunjukan dimulai dengan pembukaan, kembangan (gerak memutari penonton), dapukan (tarung), kembali ke kembangan, lalu ditutup dengan penghormatan.

Baca Juga: Teater Suryopati IPMAFA Sentil Kebijakan Pemerintah Lewat Pentas “Nampi”

“Kalau saat ini kami juga telah memiliki jurus tunggal untuk menguatkan dari sisi kemasan pertunjukan. Di Desa Pasucen sendiri dulu ada semacam jurus yang khas yakni Lutung Awe meski sekarang ini jarang yang bisa,” ungkap Osenk.

Gongcik sempat mengalami kevakuman cukup lama sejak 1994. Baru pada tahun 2012, kesenian ini kembali bangkit. Kini, belasan pemain aktif menghidupkan kembali napas Gongcik, menjadikannya tak sekadar kenangan, tetapi bagian hidup masyarakat Pasucen. Uniknya, hampir setiap orang tua di desa ini pernah memainkan Gongcik.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER