31 C
Kudus
Jumat, Februari 20, 2026

Glondong Ketigo, Jajanan Unik di Kedungdowo yang Bikin Nagih

BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebelah utara pertigaan Gapura Jetak, tepatnya di Jalan Raya Jetak, Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, sebuah gerobak hijau bertuliskan Glondong Ketigo selalu ramai dikerumuni pembeli. Di balik gerobak itu, seorang pria bertopi hitam tampak cekatan melayani pelanggan. Ia adalah Mulyadi (30), atau yang akrab disapa Kimbul, pemilik usaha Glondong Ketigo yang sudah berjalan sejak 2015.

Sebelum terjun ke dunia kuliner, Kimbul merupakan pekerja proyek bangunan. Namun, setelah proyek mulai sepi, ia memutuskan untuk membuka usaha sendiri atas saran istrinya.

“Sudah sekitar 7 tahun usaha ini berjalan. Awalnya dari ide istri yang menyarankan saya membuka usaha sendiri. Saya juga terinspirasi dari glondong Bu Darim, yang dulu cukup terkenal, tapi sekarang sudah tidak berjualan lagi. Dari situ, saya buat konsep baru dengan ciri khas bumbu yang berbeda,” ungkapnya.

-Advertisement-

Baca juga: Harga Terang Bulan Jadul Ini Cuma Rp3.500, Sehari Bisa Jual 100 Lebih

Glondong Ketigo memiliki keunikan tersendiri dibandingkan glondong pada umumnya. Ukurannya lebih kecil, namun kaya rasa berkat bumbu kacang kering yang dibuat tanpa air dengan campuran bumbu rahasia.

“Proses pembuatannya butuh kesabaran tinggi karena ukurannya mini. Sehari saya bisa membuat adonan hingga 5 kilogram. Untuk bumbu kacangnya, ada dua pilihan rasa, yaitu pedas dan tidak pedas,” jelas Kimbul saat ditemui beberapa waktu lalu.

Setiap harinya, Kimbul memiliki jadwal berjualan yang cukup padat. Pagi hingga sore ia berkeliling ke sekolah-sekolah, sementara malam hari ia mangkal di sebelah utara Gapura Jetak. Selain itu, ia juga kerap berjualan di berbagai acara besar yang ramai pengunjung.

Baca juga: Nenek 85 Tahun di Loram Kulon Viral Lantaran Jual Sosis Murah

Dengan harga yang terjangkau, mulai dari Rp 3.000-an, Glondong Ketigo berhasil menarik banyak pelanggan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Tak heran, dalam sehari ia bisa meraup omzet hingga Rp400 ribu.

“Tantangan terbesar saya, ya, saat musim hujan, karena pembeli berkurang. Tapi saya tetap semangat. Semoga usaha ini semakin maju dan berkah,” jelasnya.

Penulis: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER