BETANEWS.ID, KUDUS – Bermula dari membeli es degan, seorang pria asal Kudus terinspirasi untuk mengolah limbah kelapa menjadi produk bernilai tinggi. Pria tersebut tak lain adalah Ananda Yoga Saputra.
Awalnya, Yoga hanya berpikir mengenai cara memanfaatkan batok kelapa untuk menjadi briket. Lama-lama, ia kepikiran untuk mengolah juga serabut kelapanya.
“Pikiran itu terlintas begitu saja, dan saya mulai mencari tahu di YouTube. Karena bagaimanapun, YouTube adalah guru terbaik. Ternyata, dari serabut kelapa bisa diolah menjadi cocopeat, media tanam yang berguna bagi petani,” bebernya, belum lama ini.
Baca juga: Bisnis Magot yang Menjanjikan, Sampai Nolak-Nolak Permintaan
Ia memulai dengan mengambil serabut kelapa dari pasar-pasar di Kudus. Respon yang diterima ternyata sangat baik dari pedagang kelapa di pasar, sehingga ia memutuskan untuk fokus memproduksinya.
Berbeda dengan cocopeat pada umunya, produk buatannya itu memiliki keunggulan dengan adanya pupuk organik. Sehingga, petani yang membeli cocopeat tersebut akan lebih diuntungkan karena sudah tersedia kandungan pupuknya.
“Saya campurkan komposter dengan air, lalu serabut kelapa direndam selama tiga hari sebelum digiling. Jadi, cocopeat yang saya produksi sudah mengandung unsur pupuk,” ungkapnya.
Saat ini, kata Yoga, produk cocopeat miliknya sudah dipasarkan di wilayah eks Karesidenan Pati, dengan sasaran petani langsung. Menurutnya, dalam sehari permintaan cocopeat di tempatnya setidaknya dua karung dengan ukuran karung sekitar lima kilogram.
Baca juga: Camlok Bisa Produksi 8 Ton Tembakau Tingwe Sehari, Harga Mulai Rp130 Ribu Sekilo
“Alhamdulillah untuk pekan ini permintaan ada 100 karung dari petani di Kudus. Tapi rata-rata permintaan dalam sehari ada dua karung. Sedangkan untuk harga per karungnya saya banderol dengan harga Rp8 ribu, sekaligus ada kandungan pupuknya,” jelasnya.
Meskipun begitu, ia saat ini masih fokus menstabilkan produksi sebelum memasarkan produknya ke toko-toko. “Ada keinginan untuk memasarkan ke toko, tapi saya harus memastikan produksi stabil dulu,” ujarnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

