BETANEWS.ID, KUDUS – Bau tembalau begitu menyengat dari dalam rumah produksi Camlok, Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Di sana, beberapa wanita tampak sedang memilah daun tembakau sesuai dengan kualitasnya.
Di bagian lain, tampak beberapa orang sedang menjemur tembakau setelah dirajang. Berikut juga beberapa orang yang memanen tembakau di lahan seluas 7-8 hektare itu.
Owner Camlok, Ifa Liku Romansah menyampaikan, dalam sekali produksi, tempat tersebut bisa menghasilkan 8 ton tembakau jadi dan siap untuk dipasarkan.
Baca juga: Sediakan Tembakau Premium Dari Berbagai Daerah, Heru Bisa Jual Hingga 500 Gram Sehari
“Jadi untuk proses pengolahan tembakau ini paling bagus adalah di bulan-bulan Juli, Agustus, dan September. Karena di bulan-bulan tersebut cuaca panas terjaga dan stabil, sehingga bisa menghasilkan produk yang bagus,” bebernya, beberawa waktu lalu.
Ia menjelaskan, alasan produksinya memilih di musim panas karena terkait pengaruh rasa. Menurutnya, tembakau yang diproses di cuaca mendung akan memengaruhi rasa dan juga warna tembakau.
“Kalau tembakau diproses dengan cuaca mendung jadinya agak abu-abu, tidak bisa masak sempurna. Kalau pas panas top itu kering bisa sempurna. Jadi menjadi pertimbangan kami untuk memproduksi dengan kualitas tembakau yang bagus,” ujar pria 39 tahun tersebut.
Ia mengaku, dalam sekali produksi, tempatnya bisa menghasilkan keseluruhan sampai 8 ton tembakau jadi. Rinciannya, 7 ton tembakau basah dan sekitar 1,2-1,3 ton tembakau kering. Hal itu sesuai dengan permintaan pasar yang sebulannya mencapai 60 ribu bungkus.
Baca juga: Rasa Mirip Ganja, Tembakau Gayo Laris Manis di Ko-Mbako Ednik
Dalam produksinya, Ifa mengambil tembakau dari berbagai daerah, seperti Bojonegoro, Temanggung, Besuki, dan Madura. Tembakau itu ia olah hingga menjadi beberapa rasa, meliputi rasa apel, soju, wisky, dan teh manis. Menurutnya, olahan tembakaunya mengedepankan karakter rasa kuat, dan ada manis-gurihnya.
“Makanya produk kita namakan Camlok (campuran lokal), karena memproduksi tembakau dari berbagai wilayah di Indonesia kita kumpulkan (jadi satu). Kita campur di sini dengan karakter yang berbeda, ada sigaret kretek putih (SKP), sigaret reguler (Surya, Djarum, Mild),” terangnya.
“Kalau untuk harga mulai Rp130-150 ribu per satu kilogram atau per bungkusnya. Tergantung dari rasa tembakau yang diinginkan pelanggan,” tambahnya
Editor: Ahmad Muhlisin

