Meriahnya Tradisi Ampyang Maulid Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS – Ribuan warga terlihat antusias mengikuti Tradisi Ampyang Maulid, Desa Loram Kulon, Jati, Kudus, Senin (16/9/2024). Tradisi itu merupakan simbol peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Ribuan peserta kirab yang mengikuti tradisi tersebut mulai kumpul di lapangan kongsi, Desa Loram Wetan menuju Masjid Wali Loram Kulon. Sebanyak 38 rombongan dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari instansi sekolah, pelaku UMKM, dan rombongan masjid dan mushola memperlihatkan tampilan dalam kirab tersebut.

Baca Juga: Gas Melon Tembus Rp32 Ribu, PKL Kudus Kecewa

-Advertisement-

Terlihat pula beberapa gunungan yang dibawa masing-masing peserta, baik gunungan berupa kerupuk ataupun nasi kepal juga terlihat diarak dalam kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun tersebut.

Untuk diketahui, Festival Ampyang Maulid diambil dari kata ampyang uang merupakan bentuk makanan yang berupa kerupuk. Dalam tradisi itu masyarakat menyiapkan sejumlah gunungan yang dihiasi kerupuk (ampyang) dan ditambah sebungkus nasi kepal yang dibungkus dengan daun jati.

Ketua panitia Ampyang Maulid, Muhamad Abdul Rouf menyampaikan, dalam tradisi tersebut menyuguhkan beberapa tampilan visualisasi tokoh seperti Sultan Hadrilin, Ratu Kalinyamat, Ratu Sima, dan lain sebagainya. Menurutnya, kegiatan tersebut lebih meriah dibandingkan tahun lalu, karena sejumlah masjid Desa Loram Kulon dan Loram Wetan juga ikut meriahkan tradisi itu.

“Alhamdullah tahun ini lebih meriah, karena ada banyak peserta yang ikut berpartisipasi. Dalam tradisi Ampyang Maulid ini juga ada pembagian 10.000 nasi kepal untuk masyarakat,” ujarnya.

Ia menuturkan, Ampyang Maulid merupakan tradisi yang berasal dari peninggalan wali dan sejarah Sultan yang pernah berdakwah di kawasan tersebut. Tradisi ini melibatkan pembagian nasi dikepel yang dibungkus daun jati dan lauk pauk berupa botok, sebagai bentuk sedekah dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

“Nasi dikepel dan lauk pauk yang disajikan dalam bentuk gunungan, melambangkan wujud sedekah yang dibawa dalam perjalanan dakwah,” ucapnya.

Ampyang Maulid tidak hanya menjadi momen bersejarah, tetapi juga sebagai wadah untuk menguatkan tali silaturahmi dan rukun antarwarga. Serta sebagai sarana untuk berbagi dan memperkuat keimanan di bulan Maulid Nabi.

“Acara ini juga bertujuan untuk mengangkat dan menjaga keberadaan tradisi yang merupakan bagian dari warisan sejarah dan budaya,” ungkapnya.

Baca Juga: Mahasiswa Asing di UMK Ada 15 Orang, Paling Jauh dari Nigeria

Sementara itu, Kepala Disbudpar Kabupaten Kudus, Mutrikah menambahkan, tradisi itu bisa terselenggara secara mandiri tanpa adanya anggaran dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus. Dia berharap, dalam pengembangan desa wisata, tradisi itu bisa dilakukan secara rutin.

“Semoga tradisi ini setiap tahun selalu rutin diadakan sebagai perayaan budaya yang harus dilestarikan,” imbuhnya dalam sambutannya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER