BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku sangat geram kepada para penyebar berita bohong terkait isu Corona. Dirinya bahkan sampai mengancam akan melaporkan para pembuat hoaks kepada polisi.
Di antara berita bohong yang membuat gubernur dua periode tersebut geram yakni, saat ada berita yang mengabarkan dirinya meliburkan karyawan di Jateng. Selain berita itu, ada juga yang menyebar informasi hoaks bahwa dirinya menghentikan sementara angsuran bank di seluruh Jawa Tengah.
Baca juga: Mulai Rabu Besok ASN Diliburkan, Tapi Ponsel Harus Tetap Aktif
“Ini bisa saya laporkan (penyebar hoaks) ke polisi. Mungkin niatnya hanya main-main, janganlah,” ujar Ganjar dalam konferensi pers update penanganan Virus Corona, Selasa (17/3/2020).
Berdasarkan data yang dikumpulkan, setidaknya ada 60 kabar bohong terkait isu Corona yang disebar melalui berbagai platform. Kabanyakan informasi hoaks tersebut dikirim berantai melalui aplikasi What’s App (WA). Selain pesan teks, sejumlah berita bohong dibuat dengan mengedit berita dari media mainstream.
Baca juga: MUI Jateng: Salat Jumat Tetap Boleh di Masjid, Pengajian Disetop
“Kami telah menemukan beberapa berita yang memelintir atau bahkan mengganti judul berita. Ada yang soal diliburkannya pekerja hingga dihapusnya angsuran di bank. Jangan ada hoaks di kondisi seperti ini,” tutur Ganjar.
Ganjar juga menceritakan, dirinya sempat mendapat pertanyaan dari masyarakat langsung yang dikirim ke WA. Dia ditanya apakah benar para pekerjad di Jawa Tengah diliburkan. Ganjar tidak lantas menjawab pertanyaan itu.
Baca juga: Usai ‘Liburkan’ Sekolah, Ganjar Tutup 55 Tempat Wisata di 11 Kabupaten
“Saya tanya balik kepadanya, dari mana dia mendapatkan informasi tersebut. Saya juga bertanya, boleh orang yang mengirim informasi kepadanya saya laporkan ke polis. Dia menjawab, ‘jangan pak, ini kawan saya’, kata Ganjar menceritakan.
Ganjar mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memancing di air keruh dalam situasi penyebaran virus Corona. Dia meminta masyarakat untuk bijak dalam membagi informasi. Tidak melebih-lebihkan berita dan tidak menutupi informasi.
“Dalam kondisi seperti ini, informasi terkait Corona sangat sensitif. Saya minta jangan melebih-lebihkan informasi apalagi membuat berita bohong, karena bisa membuat masyarakat menjadi panik. Tapi jangan juga menutupi informasi,” katanya.
Editor: Suwoko

