BETANEWS.ID, KUDUS – Kepala Desa (Kades) Kajar, Bambang Totok Subiyanto memastikan proyek sumur bor akan berlanjut. Hal itu sesuai dengan hasil audiensi di Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kudus, Selasa (10/9/2024).
Menurut Bambang, proyek sumur bor menjadi solusi terbaik bagi masyarakat. Bahkan, adanya proyek sumur bor tersebut dianggap sebagai langkah antisipasi adanya masalah yang akan dialami dan kemungkinan menimbulkan gejolak di tengah masyarakat di masa mendatang.
“Lima tahun ke depan dengan pengembangan jumlah penduduk dan rumah, ini akan menjadi permasalahan. Makanya kami lewat musdes tahun 2021, bagaimana caranya untuk mengupayakan bisa mendapatkan tambahan air baku untuk masyarakat,” tuturnya.
Baca juga: Proyek Sumur Bor Tuai Pro Kontra, Warga Kajar Sampai Geruduk Dinas PUPR Kudus
Terbukti, dengan tambahan rumah baru, sumur bor diklaim bisa memenuhi semua warga. Makanya, pihaknya mengusulkan pembangunan tiga sumur bor ke Dinas PUPR.
“Ada tiga APB (air pengendali bor) yang kita usulkan. Kita itu punya namanya air telaga, itu kalau diatur secara PAM bisa mencukupi 3.500 rumah. Tapi saat ini, kan, pengaturannya masih secara manual. Jadi saat ini hanya 610 rumah yang teraliri,” ungkapnya.
Ia berharap, ke depannya bisa mendapatkan tambahan sumur bor dan mendapatkan bantuan pipanisasi. Hal itu untuk mengupayakan masyarakat bisa tercukupi kebutuhan di masa mendatang. Terlebih era perkembangan zaman, banyak masyarakat yang ingin lebih gampang dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Jalan Kudus-Purwodadi Bisa Dilalui dengan Lancar Seminggu Lagi
“Pengembangan rumah baru ini ada beberapa, tapi dengan adanya bantuan sumber APB ini terpenuhi semua. Jadi besar harapan kami dapat tambahan APB lagi, dan mungkin di tahun berikutnya mendapatkan bantuan untuk pipanisasinya,” ungkapnya.
ia menambahkan, adanya sumur bor yang dikelola secara lebih baik atau seperti PAM, akan lebih bagus dan efektif. Sebab, generasi muda ingin lebih praktis, tinggal menghidupkan kran air bisa mengalir dengan sendirinya, tanpa harus mengambil air langsung dari gunung dengan pipanisasi dengan jarak 4-7 kilometer.
Editor: Ahmad Muhlisin

