BETANEWS.ID, JEPARA – Di kediamannya, RT 19/RW 3, Desa Teluk Wetan, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, Tri Sulistiyono (48), pemilik K-Tasqu tampak sibuk menyusun potongan kain flanel menjadi berbagai bentuk kartun sesuai pesanan pelanggan.
Usai disusun rapi, desain kartun tersebut kemudian ia berikan kepada istrinya, Ummi Nafisah (40) untuk dijahit pada potongan kain jeans yang telah disatukan menjadi tas sekolah.
Baca Juga: Bantu Tingkatkan UMKM Kudus, Nunung Buat Gebrakan Beli Kopi Dapat Peci
Kain jeans yang ia gunakan memang berupa kain perca. Namun menurutnya, hal tersebut tidak mengurangi kualitas dari tas sekolah buatannya.
“Dari komentar yang sudah beli sih ngomongnya awet karena dari jeans kan, terus gambarnya kan bisa memilih sesuai dengan keinginan,” katanya pada Sabtu (20/7/2024).
Memasuki tahun ajaran baru, pesanan yang ia terima juga mengalami peningkatan. Jika di hari biasa, ia dan istrinya hanya membuat tiga buah tas sekolah, menjelang tahun ajaran baru dalam sehari ia bisa membuat enm buah tas.
Selain itu, di hari biasa dalam sebulan ia biasanya hanya menerima pesanan 25-30 tas, menjelang tahun ajaran baru bisa menjadi 100 buas tas dalam satu bulan.
“Kalau tahun ajaran baru pasti (meningkat), dulu awal-awal produksi pas ada Covid, (bikinnya) sampe tumpuk-tumpuk, dulu PO bisa sampe satu bulan. Kalau sekarang sih PO nya ngga terlalu lama, kadang seminggu ya lebih dikit lah,” jelasnya.
Selain memproduksi tas sekolah, ia juga membuat produk lain. Seperti tempat pensil, tas laptop, dan tas kerja. Untuk harganya bervariasi, mulai dari Rp100-130 ribu per buah.
Produksi tas buatannya juga sudah terjual ke berbagai daerah di Indonesia. Sebab selain diambil oleh para reseller, ia juga menjual produknya di marketplace.
“Banyak sih, sudah terjual ke mana saja. Ke Sulawesi, Aceh, seluruh Indonesia lah,” katanya.
Baca Juga: Almuna, Pusatnya Perlengkapan dan Oleh-oleh Haji di Pati
Namun, meski jumlah permintaan meningkat ia tidak bisa menambah jumlah karyawan. Sebab mencari tenaga penjahit yang mau ia ajari untuk membuat tas di daerah sekitar rumahnya cukup sulit. Sehingga seluruh pesanan tas yang ia terima hanya ia kerjakan bersama sang istri dibantu oleh empat karyawan.
“Daerah sini pekerjaan kan banyak, jahit konveksi, buat anyaman, nyari penjahit yang mau bikin tas jadi kesulitan,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

