BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang wanita mengenakan jilbab terlihat sedang melilitkan tali di sebuah botol. Dia adalah Sri Setuni (39) pemilik Seruni Handmade. Sambil menunjukkan koleksi produk di sana, dia berbagi cerita tentang perjalanan usaha tersebut.
Warga Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu mengungkapkan, awal mula membuat bank sampah sejak 2012. Diawali dari lingkup RT terlebih dahulu, dengan tiga orang pengelola, kemudian dia mencari informasi tentang bank sampah di Perum Muria Indah dan belajar dari sana.

“Karena melihat banyak sampah di lingkungan, kemudian hati saya tergugah untuk membuat bank sampah. Pernah memasang banner di sungai, “yen kaline resik uripe becik” tapi warga masih pada buang sampah di sana. Kebetulan suami saya Ketua RT, jadi saya bisa mengajak warga sekitar dulu,” ungkap Sri sapaan akrabnya.
Saat awal memulai, Sri mengaku mendapat banyak cibiran dari orang-orang. Tetapi saat ini Sri sudah membuktikan dan usahanya sudah membuahkan hasil. “Omongan-omongan yang tidak enak ya banyak pas mengawali dulu. Tapi suami saya terus mendukung, yang penting bisa membagi waktu untuk keluarga,” jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, anggota bank sampah yang dulunya aktif mulai tidak aktif satu per satu. Pada tahun 2017 bank sampah pernah dikelola karang taruna di desanya, tetapi hanya berjalan sekitar satu bulan. Akhirnya dia bertekat untuk berjalan sendiri hingga sekarang.
Dari dulu Sri memang sudah hobi membuat kerajinan, sehingga dia terus berinovasi. Omset Seruni Handmade saat ini sekitar delapan hingga 10 juta per bulan. Dalam satu bulan dia dapat mengolah lebih dari 50 kilo gram samapah plastik.
Selain mengelola limbah plastik, Sri juga mengolah sampah organik yang dimanfaatkan menjadi pupuk. Dengan cara dibuat biopori. Kemudian hasil olahan sampah organik itu dibagikan warga untuk pupuk menanam sayur.
Editor : Kholistiono

