31 C
Kudus
Kamis, Februari 19, 2026

Tak Semata Karena Cuan, Ini Alasan Petani Menawan Bersedia Tanam Tembakau

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejuknya udara mengiringi kesibukan tiga petani menanam tembakau di lereng Gunung Muria, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Mereka adalah anggota kelompok tani (Poktan) Mbangun Harjo yang nekat menanam bahan utama rokok itu di Kota Kretek.

Di lahan seluas dua hektare dengan struktur terasering tersebut, tampak hamparan tanaman tembakau yang masih setinggi kurang lebih antara tujuh hingga 10 sentimeter.

Koordinator Poktan Mbangun Harjo, Suhardi, menyampaikan, kelompoknya mulai menanam tembakau sejak 17 April 2024. Penanaman ini atas inisiatif dari Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kudus.

-Advertisement-

Baca juga: Tanam Tembakau 2 Ha, Cuan Ratusan Juta Rupiah Menanti Petani Desa Menawan

“Sebelumnya, Poktan Mbangun Harjo menanam tanaman palawija, seperti kacang, singkong, dan jagung. Kemudian kami ditawari untuk menanam tembakau, dan kami setuju,” ujar Suhardi, belum lama ini.

Menurut dia, pihaknya merasa tertantang karena Kudus terkenal sebagai Kota Kretek dan banyak perusahaan rokok, tapi tak ada satu pun petani yang menanam tembakau.

“Jadi kami pun tertantang untuk mencoba menanam tembakau, meski dari 12 anggota Poktan Mbangun Harjo yang bersedia bergabung hanya separuhnya, yakni enam orang,” bebernya.

Pihaknya menanam tembakau jenis Prancak Madura. Mereka dapat bantuan 26 ribu bibit dari Dispertan Kudus. Menurut dia, proses penanamannya itu bermula dari penyemaian selama 15 hari. Kemudian pemotrenan dan setelah 30 hari baru dipindah ke lahan dengan jarak tanam 70 X 80 sentimeter.

Sementara masa tanam hingga panen, ungkap Suhardi, butuh waktu antara tiga sampai empat bulan. Estimasi satu pohonnya bisa menghasilkan kurang lebih empat kilogram daun tembakau.

Baca juga: Lebih Hemat, Poktan Kudus Mulai Ajukan Pemasangan Listrik PLN untuk Pertanian

“Berarti hasil panen satu hektare itu empat kilogram dikali 13 ribu tanaman tembakau, hasilnya kurang lebih 52 ton daun tembakau basah. Karena kami menanam dua hektare berarti hasilnya dikalikan dua, yakni 104 ton,” ungkapnya.

Untuk hasil panen, lanjutnya, Dispertan juga sudah berjanji nanti ada yang membeli. Alasan ini pula yang menjadikan Suhardi dan lima rekannya bersedia menanam tembakau, meski belum tahu harga jualnya.

“Kita belum memikirkan harga jual daun tembakau. Tapi kami fokus bagaimana caranya berhasil menanam tembakau hingga panen. Karena itu sebuah kebanggaan, bisa menanam tembakau pertama di Kudus yang notabene adalah Kota Kretek,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER