BETANEWS.ID, DEMAK – Kecamatan Karanganyar, Demak kembali kebanjiran akibat jebolnya tanggul di Dukuh Norowito, Desa Ketanjung, Minggu (17/3/2024) dini hari. Di balik banjir yang melanda, ada kisah haru dari korban jiwa yang terdampak, yakni Dariasih. Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Karanganyar, Demak tersebut saat ini terpaksa mengungsi di bak truk dan sbelum tersentuh bantuan sama sekali.
Dariasih bersama anak dan dua cucunya yang masih keci saat ini terpaksa mengungsi di bak truk. Terik panas matahari maupun hujan selama ia mengungsi di sana ia jalani dengan ikhlas, akibat rumahnya yang terendam hingga 2,5 meter.
Baca Juga: Update Banjir Karanganyar Demak, Surut 2 Meter tapi Jalan Pantura Masih Lumpuh
Alasannya, karena cucunya tak betah tinggal dan mengungsi di tempat saudaranya yang berada di Kudus. Bahkan belum genap sehari, cucunya sudah meminta pulang dan rela tinggal di bak truk.
“Karena cucu tidak kerasan (betah) tinggal di rumah adik di Kudus. Jam 19.00 WIB sekitar habis isya’ (hari Minggu), memaksa pulang kembali dan ingin tinggal walau di bak truk,” bebernya, Rabu (20/3/2024).
Ia menjelaskan, banjir kali ini akibat jebolnya tanggul di Dukuh Norowito itu disebut paling parah dari banjir sebelumnya yang terjadi satu bulan lalu. Sebab menurutnya, ketinggian air lebih tinggi banjir saat ini dan banjir kali ini lebih cepat karena arus air yang cukup deras.
Meski begitu, dia masih bisa bersyukur, karena setidaknya bisa menyelamatkan sebagian barangnya, seperti air bersih, kendaraan, mesin cuci, dan lain sebagainya. Dengan jebolnya tanggul Minggu, sekitar pukul 2.00 WIB, dia tak sempat sahur dan lebih memilih menyelamatkan diri terlebih dahulu.
“Jadi saat itu ada info yang dikabarkan dari Kades Karanganyar, tidak boleh tidur dulu, karena kondisi tanggul yang mengkhawatirkan. Jebolnya jam 2 dini hari. Tidak sempat sahur di rumah, jadi sahur sudah di sini,” ujar wanita berusia 69 tahun itu.
Baca Juga: Banjir Karanganyar Demak Mulai Surut, Tapi Warga Masih Khawatirkan Ini
Dariasih mengaku, hari pertama mengungsi di bak truk milik anaknya tak mendapat bantuan apapun. Lalu di hari keduanya, anaknya membuat status di media sosial, bahwa mengungsi di bak truk di area jembatan Tanggulangin tidak dapat bantuan. Upaya itu akhirnya mendapat respon dari orang yang melihat status anaknya.
“Di hari pertama belum ada bantuan apa-apa. Baru di hari kedua anak saya membuat status di media sosial, bahwa mengungsi di truk tidak dapat bantuan dan tidak ada yang peduli. Kemudian setelah itu ada yang datang dan mempedulikan kami. Jadi sahur dan buka selama dua hari ini Alhamdulillah terpenuhi,” imbuhnya hingga meneteskan air mata.
Editor: Haikal Rosyada

