BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah pengungsi terlihat tengah beristirahat di posko pengungsian GKMI Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Mereka tampak duduk atau rebahan berkelompok sambil bercengkerama satu sama lain.
Di bagian depan gereja, tampak sejumlah relawan menurunkan berbagai bantuan logistik untuk para pengungsi. Setiap ada musibah banjir, gereja tersebut memang selalu jadi posko pengungsi.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, musibah kali ini bertepatan dengan Ramadan, sehingga pihak gereja memberikan fasilitas berupa tempat tarawih, hingga keperluan sahur dan berbuka.
Baca juga: Belum Ada Bantuan, Korban Banjir Kudus Sahur Hanya dengan Nasi dan Sambal
Pendeta GKMI, Hendrajaya, menyampaikan, GKMI menjadi salah satu tempat pengungsian untuk para korban banjir yang mulai menerima warga sejak Kamis (14/3/2024). Hingga saat ini ada 70 pengungsi, dan masih akan menampung sampai 125 jiwa.
“Ada 24 Kartu Keluarga (KK) yang mengungsi di sini, dengan total kira-kira 50 pengungsi itu mayoritas umat muslim, ” jelasnya saat ditemui, Jumat (15/03/2024).
Dirinya mengungkapkan, karena banjir 2024 bertepatan dengan bulan puasa. pihaknya belum mempersiapkan untuk kegiatan-kegiatan umat muslim.
“Namun, kami usahakan juga akan memberikan fasilitas-fasilitas seperti untuk salat tarawih dan sahur. Yang utama saat ini adalah mereka mendapat tempat yang layak dahulu,” ucap Hendra.
Nantinya, kami juga akan bekerjasama dengan para pengungsi untuk mempersiapkan buka bersama. Sementara itu, hingga saat ini bantuan logistik juga sudah diberikan oleh pemerintah Desa Tanjungkarang.
Baca juga: Banjir di Jetis Kapuan Kudus Hampir 1 Meter, Warga Pilih Bertahan
“Tadi dapat bantuan berupa sembako kayak beras, telor, minyak. Tadi dari pihak kami juga sudah berbelanja untuk kebutuhan satu minggu ke depan,” jelasnya.
Dirinya menyebut, sejak 1980an GKMI memang sudah sering menjadi tempat pengungsian. Sehingga, hal itu sudah menjadi nilai yang para jemaat hidupkan.
“Kami bisa berdiri juga karena masyarakat. Ada yang julukan yang diberikan kepada desa kami yakni moderasi umat beragama. Sehingga, kami ingin menampilkan wajah gereja adalah wajah rumah. Jadi, bagi siapapun kami siap membantu,” tambahnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

