BETANEWS.ID, JEPARA – Dibantu istri dan anaknya, Supriyanto (55) telaten merakit potongan kardus yang sudah dicetak menjadi lampion. Terdapat enam bentuk lampion yang ia jual yaitu Masjid berukuran kecil, Masjid berukuran besar, Kapal, Hello Kitty, Menara, dan rumah susun.
Menurut Supriyanto, Lampion biasanya ramai dicari pembeli pada saat menjelang bulan puasa. Sebab beberapa daerah di Kabupaten Jepara biasanya mengadakan tradisi baratan atau pesta lampion pada malam Nisfu Sya’ban atau 15 hari menjelang Bulan Ramadan.
Baca Juga: Viral dan Sering FYP, Ada yang Pernah Coba Smoothies Fruit Kudus?
Tidak hanya saat momen tersebut, pengrajin lampion juga akan banjir pesanan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Namun pesanan tersebut biasanya datang dari para pedagang yang berjualan di Kabupaten Kudus.
“Selain pas musim baratan atau malam Nisfu Sya’ban, masyarakat Kudus pada waktu malam takbiran kan ada tradisi takbir keliling sambil bawa lampion. Jadi ramainya ya memang pas dua moment itu,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Jalan Kromodiwiryo, Gang Kemasan, Dukuh Krajan, Rt 03 Rw 1, Desa Purwogondo, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Jum’at (23/2/2024).
Dalam sehari pria yang sudah 22 tahun menjadi pengrajin lampion itu mampu membuat rata-rata 50 buah lampion untuk satu bentuk. Lampion tersebut tidak ia jual sendiri, melainkan sudah terdapat pedagang yang memesan lampion buatannya.
Di Jepara, ia memiliki lima pedagang langganan. Sedangkan di Kabupaten Kudus, terdapat tiga pedagang langganan. Satu pedagang biasanya memesan 100 – 150 buah lampion berbagai bentuk sekali pesan.
Satu buah lampion dengan ukuran kecil ia jual dengan harga Rp4 ribu. Sedangkan untuk ukuran besar dan yang memiliki bentuk sedikit rumit ia jual dengan harga Rp6 ribu per lampion.
Selain lampion yang memiliki aneka ragam bentuk, pengrajin impes atau lampion berbentuk silinder dan memiliki tekstur berkerut juga ikut kebanjiran pesanan.
Menurut Supriyanto, dulunya masyarakat Desa Purwogondo lebih dikenal dengan pengrajin impes. Namun sekitar tahun 2000-an, generasi penerusnya mulai mengembangkan lampion dengan beraneka bentuk.
Mulihatin (50) salah satu pengrajin Impes yang masih tersisa di Desa Purwogondo bercerita saat kecil ia sering membantu orang tuanya ketika membuat Impes. Baru sekitar tahun 2019, ia mulai membuat impes sendiri.
Sama dengan Supriyanto, impes buatannya juga tidak ia jual sendiri. Ia bahkan menerima pesanan sudah jauh-jauh hari sebelum mendekati bulan puasa.
Baca Juga: Kemarau Panjang, Produsen Kerupuk di Kudus Hemat Biaya dan Tenaga
“Kadang ada yang udah pesen dari sehabis Lebaran Idul Adha, ya diambilnya baru sekarang-sekarang ini. Jadi buatnya santai,” katanya.
Untuk satu buah impes yang waktu pemesanannya sudah lama, biasanya ia jual dengan harga Rp2 ribu per buah. Sedangkan yang mendekati momen puasa dan lebaran, ia jual dengan harga Rp3 ribu per buah.
Editor: Haikal Rosyada

