Kekeringan di Kudus Meluas, 729.500 Liter Air Bersih Didistribusikan untuk Empat Desa

BETANEWS.ID, KUDUS – Musim kemarau panjang mulai berdampak terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus mencatat kebutuhan air bersih terus didistribusikan untuk membantu warga yang mulai mengalami kesulitan air.

Berdasarkan data, kekeringan di Kabupaten Kudus saat ini meluas menjadi empat desa yang terdampak. Di antaranya Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan; Desa Setrokalangan dan Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu; serta Desa Colo, Kecamatan Dawe.

Sementara itu, ada satu desa lagi yang melaporkan mengalami kekeringan kepada BPBD Kudus, yaitu Desa Larikrejo, Kecamatan Undaan. Meski begitu, pihak BPBD tengah melakukan asesmen terlebih dahulu sebelum melakukan pendistribusian.

-Advertisement-

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko, mengatakan hingga saat ini pihaknya telah mendistribusikan sekitar 137 tangki atau sekitar 729.500 liter air bersih ke sejumlah wilayah terdampak. Rinciannya, Glagahwaru sudah terdistribusi 603.000 liter, Colo 18.000 liter, dan Setrokalangan 88.500 liter.

Sedangkan warga terdampak kekeringan di wilayah Kabupaten Kudus tercatat ada 811 Kartu Keluarga (KK) atau 2.316 jiwa.

“Totalnya sudah ada 137 (tangki air yang didistribusikan). Total distribusi itu dilakukan mulai 15 Juli hingga 28 Agustus 2026,” bebernya, Sabtu (29/8/2026).

Sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan terus dibantu mendapatkan air bersih, di antaranya Desa Glagahwaru, Setrokalangan, Kedungdowo, dan Colo. Di wilayah Colo, kata dia, persoalan air bersih salah satunya terjadi karena saluran air dari sumber pegunungan menuju permukiman warga mengalami gangguan.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga kehilangan akses terhadap sumber air yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat ini, kebutuhan distribusi air bersih di masing-masing daerah berada di kisaran 10 tangki per hari. Jumlah tersebut sebenarnya telah menurun dibandingkan sebelumnya yang sempat mencapai sekitar 15 tangki dalam sehari, seperti di Desa Glagahwaru.

Meski begitu, BPBD tetap mewaspadai kemungkinan meningkatnya kebutuhan air bersih karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung cukup panjang.

“Musim kemarau ini panjang dan begitu ekstrem, super ekstrem,” katanya.

Berdasarkan perkiraan BPBD, kondisi kemarau masih akan berlangsung hingga sekitar Oktober. Sementara berdasarkan perkiraan BMKG, musim kering berpotensi berlanjut hingga November.

Namun, Eko menyebut kondisi ketersediaan air masyarakat secara umum masih relatif aman selama jaringan Perumda Air Minum atau PDAM masih dapat mengalir dengan baik.

“Sebetulnya tidak ada masalah, karena kita ada PDAM. Selama PDAM itu masih mengalir saya pikir aman,” ungkapnya.

BPBD Kudus pun terus memantau perkembangan kondisi kekeringan di berbagai wilayah. Apabila terdapat laporan masyarakat mengenai kesulitan air, petugas akan melakukan asesmen sebelum menentukan kebutuhan distribusi.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER