Jalan Pengabdian Sang Mantan Guru: Kisah Bambang Lahirkan “DIGIT” dan “Onno” demi Kemandirian Desa Sumowono

BETANEWS.ID, SEMARANG – Bagi sebagian orang, ekspektasi yang tidak sesuai dengan realitas menjadi alasan yang tepat untuk menyerah. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Bambang Wahyu Nugroho, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Aji Bodronoyo, Desa Sumowono, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang.

Bambang yang dulunya merupakan guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan aktivis mahasiswa semasa kuliah, justru mengubah kejutan tak terduga yang ia terima saat pertama kali menjabat sebagai Direktur BUMDes menjadi pijakan untuk melahirkan inovasi digital bagi desanya.

Niat awal Bambang sebenarnya ingin membangun ekosistem marketplace untuk membantu memasarkan produk UMKM lokal di desanya secara daring.

-Advertisement-

“Wah ketoknya (kelihatannya) keren nih ketika desa kemudian punya toko online yang bisa mengakomodasi UMKM yang ada. Ide awal saya sebenarnya itu,” ucap Bambang menceritakan awal perjuangannya merintis BUMDes saat ditemui di Kantor BUMDes Aji Bodronoyo, Desa Sumowono, beberapa waktu lalu.

Namun, Bambang tidak mengira bahwa setelah resmi dilantik pada 2 Januari 2022, Direktur BUMDes juga bertanggung jawab mengelola Pasar Desa dan Lembaga Keuangan Desa (LKD).

Kedua unit usaha tersebut sudah ada sebelum BUMDes Aji Bodronoyo resmi didirikan pada akhir 2021. BUMDes dibentuk karena merupakan salah satu program prioritas Kepala Desa Sumowono, Budiono, yang juga baru dilantik pada 2019.

“Saya enggak tahu kalau ternyata direktur BUMDes itu juga harus ngelola pasar dan itu sifatnya mandatori,” kenang Bambang.

Alih-alih mengeluh, Bambang langsung mengambil langkah berani dengan meminta waktu tiga hingga empat bulan kepada kepala desa pada masa awal menjabat untuk mengamati dan mempelajari ekosistem pasar desa.

Dari proses observasi itulah Bambang menemukan akar permasalahan dalam pengelolaan pasar, yaitu sistem penarikan retribusi karcis yang masih manual serta cengkeraman rentenir terhadap pedagang.

“Dulu keresahan saya adalah pertama bank plecit (rentenir), yang kedua masalah karcis yang masih manual. Bagi petugas gampang, tapi untuk pendataan di kantor itu sulit,” ungkap Bambang.

Sebagai solusi atas keresahannya, Bambang melahirkan inovasi berupa aplikasi DIGIT (Digital Terintegrasi), yaitu aplikasi yang mengintegrasikan pembayaran retribusi dengan sistem tabungan harian bagi pedagang.

Pembentukan aplikasi tersebut tidak mudah. Proses perumusan hingga pembuatan sistem aplikasi berlangsung kurang lebih satu tahun, dimulai pada Agustus 2022 hingga akhirnya resmi diluncurkan pada 1 Juli 2023.

Dalam penerapannya, Bambang menyadari bahwa mayoritas dari 500 pedagang di Pasar Desa Sumowono sudah berusia lanjut dan kurang akrab dengan teknologi digital. Karena itu, Bambang tidak ingin memaksakan penggunaan QRIS yang dinilai merepotkan pedagang.

Ia menerapkan sistem “semi-digital”, yakni pedagang tetap membayar secara tunai, tetapi petugas langsung menginput pembayaran ke dalam sistem aplikasi.

“Skemanya pedagang masih membayar tunai, petugas yang menginput, dan lewat petugas pedagang bisa langsung menabung. Harapan kami agar tidak terkena bank plecit (rentenir),” jelas Bambang.

Pada awal memunculkan ide tersebut, banyak pihak yang meragukan, mulai dari pedagang hingga kalangan internal BUMDes. Belum lagi proses pengambilalihan pengelolaan Pasar Desa dan LKD dari pengurus sebelumnya yang membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk menyelaraskan pola kerja.

Namun, ketekunan Bambang akhirnya membuahkan hasil. DIGIT berjalan, praktik rentenir perlahan menghilang, dan Desa Sumowono berhasil masuk 15 besar Desa BRILiaN terbaik tingkat nasional pada 2025, sebuah program inkubasi pemberdayaan desa yang diselenggarakan oleh Bank BRI.

Selama mengikuti program Desa BRILiaN, Bambang juga mendapat pembinaan yang, menurut pengakuannya, turut mempercepat transformasi BUMDes, mulai dari manajemen keuangan hingga digitalisasi sistem pelaporan yang sebelumnya masih serba manual.

Selain membentuk aplikasi DIGIT, misi utama Bambang saat mendaftar sebagai Direktur BUMDes adalah membawa desanya menuju digitalisasi.

Misi tersebut diwujudkan dengan membentuk Onno pada 30 Juni 2024, sebuah unit usaha yang berfokus pada layanan antarjemput. Onno awalnya didirikan untuk mewujudkan mimpinya membangun ekosistem marketplace bagi UMKM di desanya.

Namun, melihat kebutuhan pasar, unit usaha tersebut kemudian diintegrasikan dengan Agen BRILink yang baru dibuka setelah mengikuti program Desa BRILiaN.

“Lewat layanan itu, masyarakat bisa setor atau tarik tunai lewat kurir, jadi enggak perlu datang ke kantor,” ujar Bambang.

Dedikasi dan ketekunan Bambang dalam merintis BUMDes tidak lahir begitu saja. Semua itu dibentuk dari proses yang ia lalui sejak menamatkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Bambang merupakan warga asli Desa Sumowono. Pendidikan dasarnya diselesaikan di desa kelahirannya. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan SMP di Ambarawa, Kabupaten Semarang, kemudian mengambil jurusan Teknik Informatika (TI) di salah satu SMK di Purwokerto, Kabupaten Banyumas.

Setelah lulus SMK, Bambang merantau ke Jakarta dan bekerja di salah satu perusahaan otomotif selama dua tahun.

Uang hasil kerjanya kemudian digunakan untuk melanjutkan kuliah di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Program Studi Pendidikan Matematika, pada 2010 dan lulus pada 2015.

Semasa kuliah, Bambang aktif berorganisasi, baik di lembaga internal seperti HIMA (Himpunan Mahasiswa) tingkat jurusan dan DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) tingkat universitas, maupun di organisasi eksternal, yaitu HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Selama berorganisasi, Bambang memegang posisi yang cukup strategis. Ia menjabat sebagai Ketua Komisariat HMI UPGRIS, kemudian menjadi Sekretaris Umum HMI Cabang Semarang pada periode 2015–2016.

Dari sana, Bambang belajar bagaimana bergerak di tengah dinamika, membangun kesepakatan, dan memimpin orang dengan karakter yang berbeda-beda, bekal yang membantunya saat menghadapi berbagai tantangan di BUMDes.

Setelah lulus, Bambang mengajar matematika di sebuah SMP di Tembalang, Kota Semarang, sembari melanjutkan studi S-2 Pendidikan Matematika di Universitas Sebelas Maret (UNS).

Bambang juga sempat merintis usaha percetakan pada 2017. Namun, usaha tersebut tidak dapat bertahan akibat pandemi Covid-19. Setelah itu, ia merintis usaha kerajinan kayu yang dipasarkan secara daring. Pengalaman tersebut memberinya bekal di dunia usaha sebelum memimpin BUMDes.

Setelah enam tahun mengajar, Bambang memutuskan mengundurkan diri pada Juni 2021. Dua bulan kemudian, ia mendapat informasi bahwa desanya membuka pendaftaran Direktur BUMDes. Bambang pun ikut mendaftar, bersaing dengan lebih dari 20 peserta, dan akhirnya terpilih.

Berbagai pengalaman yang telah dilaluinya membawanya pada satu filosofi hidup yang menjadi pijakan dalam menjalankan amanah sebagai Direktur BUMDes.

“Sebaik-baik orang adalah orang yang bermanfaat. Ketika saya pulang ke desa, saya pengin bermanfaat untuk desa saya,” ucap Bambang.

Selain itu, Bambang menyadari bahwa mengelola BUMDes tidak bisa disamakan dengan mengelola perusahaan pada umumnya. Ada nilai-nilai sosial yang akan selalu disorot dan dinilai oleh masyarakat.

Karena itu, semangat pengabdian juga selalu ia tanamkan kepada anggota timnya.

“Saya kalau sama temen-temen itu gini, kita kerja orientasi hasil itu pasti, tapi jangan lupakan bahwa spirit pengabdian itu harus selalu ada, kita tanamkan, dan jaga terus,” kata Bambang saat mengingat pesan yang selalu ia sampaikan kepada pengurus BUMDes.

Dedikasi tersebut diakui oleh Kepala Desa Sumowono, Budiono. Menurutnya, mencari pimpinan BUMDes yang cerdas memang mudah, tetapi menemukan sosok yang peduli adalah hal yang langka.

“Kalau anak pintar banyak. Tapi kebetulan yang kami dapatkan itu tidak hanya pintar, tapi lagi-lagi punya kepedulian. Itu sing angel (yang susah),” ujar Budiono saat ditemui di kediamannya.

Di bawah kepemimpinan Bambang, Budiono menilai BUMDes telah berjalan sesuai harapan, berhasil memberdayakan perekonomian desa, dan mampu membuka banyak lapangan kerja bagi warga sekitar.

Ditambah dengan pembinaan dari BRI melalui program Desa BRILiaN, Budiono menilai pendampingan tersebut semakin mempercepat dan memperkuat transformasi tata kelola digital di BUMDes.

Dedikasi Bambang dalam memimpin BUMDes juga dirasakan oleh Annisa Aina, Manajer Onno. Annisa mengaku kagum terhadap kepemimpinan Bambang yang dinilainya sangat membimbing, serba bisa, dan berwawasan luas.

Namun, di balik ketangguhannya, Annisa mengatakan Bambang juga sesekali mengeluhkan beratnya memimpin banyak unit usaha dengan karakteristik yang berbeda-beda, tetapi tidak pernah menyerah dalam mengelolanya.

“Kadang Pak Bambang cerita kayak enggak gampang ngurus usaha yang beda-beda. Fokusnya kan beda-beda, tapi Pak Bambang tetap bisa ngelola, jadi keren sih,” ucap Annisa.

Menjelang akhir masa jabatannya pada akhir 2026, Bambang justru tidak menyimpan kebanggaan berlebih. Sebab, ia masih memiliki dua pekerjaan rumah besar yang belum tuntas.

Unit pengelolaan sampah yang sempat ia rintis secara mandiri terpaksa digabung kembali ke bawah manajemen pasar karena terus merugi. Sementara itu, Alun-Alun Sumowono yang ia impikan menjadi ikon destinasi wisata desa masih membutuhkan perjalanan panjang untuk dapat terwujud.

Kini, Bambang berharap siapa pun yang kelak meneruskan kepemimpinan BUMDes dapat melanjutkan, bahkan mengembangkan, unit usaha yang sudah ada. Terlebih, saat ini ada 50 orang yang menggantungkan hidup sebagai karyawan BUMDes.

“Kalau (untuk) saya sederhana membayangkan nanti ke depan seperti apa, tapi eman-eman (jika tidak dilanjutkan), karena sudah ada yang kerja dan yang laki-laki pasti kan untuk menghidupi keluarganya,” pungkas Bambang.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER