BETANEWS.ID, KUDUS – Tradisi memasak dan membagikan Bubur Asyura masih terus dilestarikan masyarakat Kabupaten Kudus hingga saat ini. Tradisi yang selalu hadir setiap 10 Muharam tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian peringatan Buka Luwur Sunan Kudus.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi turun-temurun ini tetap dijaga oleh masyarakat dan para relawan (perewang) yang setiap tahun terlibat dalam proses pembuatan Bubur Asyura untuk dibagikan kepada warga.
Salah seorang panitia, Yulistiani, mengatakan dirinya telah enam tahun menjadi perewang dalam kegiatan tersebut. Persiapan pembuatan Bubur Asyura sudah dimulai sejak sehari sebelumnya, mulai dari menyiapkan samir dan takir yang digunakan sebagai wadah pembagian bubur.
“Proses rewang dimulai sejak kemarin untuk membuat samir dan takir. Hari ini dilanjutkan memasak dan menata Bubur Asyura yang nantinya didistribusikan kepada masyarakat sekitar,” ujarnya.
Bubur Asyura yang dimasak memiliki keunikan tersendiri karena menggunakan sembilan jenis bahan utama, yakni beras, singkong, ubi, kacang tolo, kacang tanah, kacang hijau, kedelai, pisang, dan jagung. Selain itu, bubur juga dilengkapi dengan sembilan jenis pelengkap atau topping berupa jeruk, tauge, udang, telur, cabai, ikan teri, tahu, dan tempe.
Baca juga : Di Balik Secangkir Kopi Chang, Ada Kisah Idealisme yang Tak Tunduk pada Pasar
Menurut Yulistiani, Bubur Asyura tidak sekadar menjadi hidangan tradisional, tetapi juga sarat makna religius dan budaya. Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi sekaligus mengingat kisah Nabi Nuh AS.
“Maknanya adalah rasa syukur atas hasil bumi yang diberikan Allah SWT. Selain itu juga berkaitan dengan kisah Nabi Nuh, ketika berbagai bahan makanan yang tersisa di kapal dikumpulkan dan dimasak menjadi satu hidangan,” jelasnya.
Tahun ini, panitia memasak Bubur Asyura menggunakan enam kawah besar. Dari jumlah tersebut, sekitar 750 porsi dikemas menggunakan samir untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar dan para romo kiai. Sementara ratusan porsi lainnya ditempatkan dalam takir untuk jamaah kegiatan berjanjen dan anggota kelompok selawat.
“Untuk samir sekitar 750 porsi. Kemudian yang menggunakan takir sekitar 300 sampai 400 porsi untuk kegiatan berjanjen dan anggota selawat,” katanya.
Pembuatan Bubur Asyura melibatkan sekitar 30 perewang. Aktivitas memasak dimulai sejak dini hari. Para relawan mulai menyiapkan bahan sekitar pukul 02.00 WIB, kemudian proses mengaduk bubur dimulai pukul 03.00 WIB.
Dalam satu kali proses memasak, dibutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk menyelesaikan tiga kawah bubur. Karena total terdapat enam kawah, proses dilakukan dalam dua tahap hingga seluruh bubur siap dibagikan kepada masyarakat.
Bagi masyarakat Kudus, Bubur Asyura bukan sekadar sajian kuliner tradisional. Kehadirannya setiap 10 Muharam telah menjadi bagian dari identitas budaya dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam rangkaian Buka Luwur Sunan Kudus.
Melalui pelestarian tradisi ini, nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, rasa syukur, serta penghormatan terhadap warisan budaya dan sejarah keagamaan terus dijaga agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Editor: Kholistiono

