Meski Saldo Minimal QRIS Bikin Dilema, Ningsih Memilih Bertahan Pakai Pembayaran Digital

BETANEWS.ID, JEPARA – Suasana warung Lontong Gebyur yang berada di depan Kali Wiso, Jalan Brigjen Katamso Nomor 28, Kelurahan Panggang, Kecamatan Jepara, Kamis (14/5/2026) siang itu tak seramai biasanya. Kondisi tersebut bertepatan dengan hari libur Kenaikan Isa Almasih.

Pada hari kerja, terutama saat jam makan siang, parkiran warung itu biasanya penuh. Banyak pejabat pemerintahan serta ibu rumah tangga datang untuk menikmati maupun membungkus lontong gebyur dan berbagai kudapan lainnya.

Siang itu, karena suasana lengang, Triningsih (48) bisa memperhatikan dengan saksama pembeli yang datang ke warungnya. Terdapat dua perempuan muda yang memesan lontong gebyur.

-Advertisement-

Kedua perempuan itu membayar menggunakan QRIS yang sudah lama terpajang di atas meja, di antara wadah berisi sayur pecel dan berbagai jajanan pendamping.

Lirikan mata Ningsih tampak awas mengamati gerakan tangan perempuan muda yang menyodorkan ponselnya untuk membayar pesanan makanan yang dibungkus.

Usai melayani perempuan muda itu, Triningsih bercerita bahwa ia sudah sekitar lima tahun menggunakan QRIS dari BRI di warung Lontong Gebyur warisan ibunya yang dirintis sekitar tahun 1991.

Awalnya, Ningsih menggunakan QRIS karena banyak pelanggan, terutama anak muda, yang menanyakan apakah warungnya melayani pembayaran digital tersebut.

Mulanya Ningsih belum tahu sistem pembayaran QRIS. Ia kemudian bertanya kepada anaknya dan akhirnya memutuskan menggunakan QRIS saat ditawari salah satu pegawai BRI Cabang Jepara yang menjadi pelanggan di warungnya.

“Awalnya kalau ada yang beli itu pada tanya, ‘Bu ada ShopeePay? Ada DANA?’ Tadinya saya enggak ngeh, terus tanya sama anak. Setelah itu ada pelanggan saya, orang BRI, nawarin QRIS, ya sudah akhirnya saya bikin,” tutur Ningsih saat ditemui di sela melayani pembeli beberapa waktu lalu.

Meskipun tidak banyak, Ningsih mengatakan hampir setiap hari selalu ada pelanggan di warungnya yang membayar menggunakan QRIS.

Harga sepiring lontong gebyur yang dijual Ningsih yaitu Rp13 ribu per porsi. Ia juga menjual menu lain berupa lontong pecel dengan harga Rp12 ribu per porsi, aneka jenis bubur seharga Rp7 ribu per porsi, serta gorengan dengan harga Rp1 ribu hingga Rp2 ribu per biji.

Ningsih mengaku sebenarnya cukup terbantu dengan adanya QRIS. Akan tetapi, masalah muncul saat ia ingin menarik uang di rekening miliknya.

Adanya ketentuan saldo minimum yang harus mengendap di rekening membuat jumlah modal harian yang dibutuhkan untuk operasional warung menjadi berkurang.

“Sebenarnya kalau saya pakai QRIS malah ribet, karena harus ada sisa saldo yang ditinggalkan di ATM pas ambil uang,” ujar Ningsih.

Ningsih mencontohkan, misalnya dalam sehari total uang yang masuk melalui QRIS sebesar Rp370 ribu, maka jumlah uang yang bisa diambil hanya Rp320 ribu.

“Sedangkan uang Rp50 ribu bagi perputaran di warung itu jumlah yang lumayan,” ungkap Ningsih.

Menanggapi hal itu, Relationship Manager Funding & Transaction (RMFT) Individu Unit BRI Cabang Jepara, Frido Duta Wibisono, menjelaskan bahwa ketentuan sistem pembayaran digital, termasuk QRIS, berada di bawah regulasi Bank Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran nasional.

“Perbankan seperti BRI hanya berperan sebagai penyelenggara layanan yang mengikuti ketentuan regulator,” jelas Frido melalui pesan tertulis.

Namun, Frido mengatakan setiap penggunaan QRIS oleh pedagang, pihaknya selalu memberikan edukasi dan sosialisasi kepada merchant sebelum aktivasi layanan QRIS dilakukan.

Sosialisasi tersebut meliputi tata cara penggunaan QRIS, proses settlement dana, biaya transaksi, hingga ketentuan saldo rekening yang digunakan sebagai rekening hasil transaksi.

“Sebagai bentuk upaya untuk menjembatani kebutuhan pedagang, kami biasanya melakukan beberapa langkah, di antaranya memberikan edukasi mengenai pilihan jenis rekening yang memiliki saldo minimum lebih ringan atau biaya administrasi lebih rendah,” ujar Frido.

Meskipun mengalami dilema, Ningsih sampai saat ini masih mempertahankan penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran.

“Walaupun ada seperti itu, QRIS tetap saya pakai. Kan sekarang semua juga pakai QRIS, pedagang di angkringan juga pakai QRIS,” pungkas Ningsih.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER