BETANEWS.ID, KUDUS – Museum Jenang dan Gusjigang Kabupaten Kudus jadi tempat favorit ngabuburit warga Kota Kretek dan sekitarnya. Salah satu yang menarik dan mencuri perhatian pengunjung adalah koleksi Alquran.
Pasalnya, di museum yang diresmikan pada 24 Mei 2017 tersebut terdapat koleksi kitab suci agama Islam. Mulai dari yang terkecil hingga yang paling tua juga ada di museum milik Mubarok Food tersebut.
Suksesor Mubarok Food, Mafas Andar mengatakan, bahwa koleksi Alquran merupakan satu di antara bagian teristimewa di Museum Jenang dan Gusjigang. Menurutnya, saat ini kurang lebih ada 30 kitab suci bagi umat muslim yang dipamerkan di dalam museum.
“Oleh karenanya, para pengunjung di Museum Jenang dan Gusjigang ini pasti selalu terkesima dengan koleksi Alquran yang ada. Mereka biasanya melihat dan meneliti dengan seksama,” ujar Mafas kepada Betanews.id di Museum Jenang dan Gusjigang, belum lama ini.
Lebih lanjut Mafas menuturkan, ada berbagai koleksi Alquran di Museum Jenang dan Gusjigang. Mulai yang tertua dan langka yang masih ditulis di daun lontar. Serta ada juga yang ditulis di kulit sapi.
Baca juga: Ramadan, Museum Jenang dan Gusjigang Jadi Favorit Ngabuburit Warga
“Di Musuem Jenang dan Gusjigang juga ada Mushaf Alquran raksasa. Selain itu, kami juga ada koleksi Alquran mini (stambul),” bebernya.
Dia menuturkan, untuk mendapatkan berbagai Alquran langka yang kemudian dipajang di Museum Jenang dan Gusjigang tidaklah mudah. Quran mini didapatkan dari seorang kolektor dari Negara Turki.
“Koleksi Alquran mini di Museum Jenang dan Gusjigang kurang lebih ada 25. Di antaranya ada yang sudah berusia ratusan tahun,” sebutnya.
Sementara koleksi Alquran lainnya, kata Mafas, berasal dari Indonesia. Namun, ada juga yang usianya itu lebih dari tiga abad, yakni yang terbuat dari daun lontar.
Alquran ini juga terbilang istimewa. Sebab sejarahnya, Alquran ini dibuat oleh santri zaman lampau atas permintaan kiainya sebagai bukti kelulusan atau wisuda.
“Kiai tersebut berkata kepada santrinya, jika ingin wisuda itu harus ada skripsinya. Maka sang santri membuat dan menulis Alquran dari daun lontar,” jelasnya.
Baca juga: Wisata Edukasi di Museum Jenang, Pengunjung Diajak Nostalgia Kudus Tempo Dulu
Dia menuturkan, bahwa untuk mengumpulkan puluhan koleksi Alquran tersebut tidak gampang. Tidak semua bisa didapatkan dengan mudah, sebab tak hanya ada di Kudus. Tetapi pencarian juga harus ke kota lain, luar pulau bahkan ke luar negeri.
“Setidaknya kami butuh waktu satu tahun untuk mendapatkan puluhan koleksi Alquran yang ada di Museum.Jenang dan Gusjigang ini. Semoga bisa memberikan literasi tentang kitab suci bagi umat muslim dan menambah keimanan kita semua,” harapnya.
Satu di antara pengunjung yakni, Dyah mengaku sangat takjub dengan koleksi Al-Qur’an yang ada di Museum Jenang dan Gusjigang Kudus. Menurutnya, selain mushaf yang besar ternyata juga ada yang ukuran samgat mini yang sebesar ibu jari.
“Saya kagum, ternyata ada Alquran ukurannya sangat kecil. Kemungkinan bacanya harus pakai kaca pembesar. Intinya saya sangat suka berkunjung ke Musuem Jenang dan Gusjigang, karena pengetahuanku jadi bertambah,” ujar pengunjung dari Rembang tersebut.
Editor: Kholistiono

