Kedai dengan tulisan Yolo Coco terlihat di sisi Jalan Conge, Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Di kedai yang ukurannya tak begitu besar itu tampak botol-botol sirup terjajar rapi. Di sana juga terlihat seorang laki-laki yang sedang sibuk menyiapkan pesanan pembeli. Dia adalah Ahmad Yulfaiq (27), sang pemilik usaha.
Di sela-sela menyiapkan dagangan, pria yang biasa disapa Faiq itu, bersedia menjelaskan usaha yang dirintisnya sejak tahun 2024 tersebut. Ia mengaku pernah dipercaya sebagai kepala cabang sebuah travel umroh, usaha yang dibuatkan orang tuanya. Namun, ia memutuskan untuk meninggalkan kenyamanan itu.
“Alhamdulillah saya pernah dipercaya menjadi kepala cabang travel umroh. Cuma sekarang saya ingin mandiri, tidak ikut orang tua. Jadi saya berpikir bahwa usaha yang paling saya sukai adalah berjualan,” bebernya.
Baca juga: Laris Manis, Mie Ayam dan Bakso Pak Dhe Wonogiri Laku Ratusan Porsi Sehari
Ketertarikannya pada dunia minuman bermula ketika ia bekerja sebagai barista di Bali. Selama satu setengah tahun, Faiq belajar meracik berbagai minuman di sebuah sekolah bartender. Di sana, ia belajar bahwa sebuah minuman bukan sekadar pelepas dahaga, tapi bisa jadi karya seni.
“Dari situ, pengalaman saya sebagai barista dan bartender mulai terasa berguna,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Setelah kembali ke Kudus, Faiq memutuskan untuk memulai usaha kecilnya dengan menjual kelapa muda. Tidak hanya kelapa biasa, ia mengombinasikannya dengan berbagai varian rasa. Ia menciptakan sirup khas yang resepnya dipelajari dari ibunya sejak SMA.
“Ibu saya yang pertama kali meracik sirup ini. Rasanya unik dan menjadi ciri khas minuman yang saya jual sekarang,” jelasnya.
Baca juga: Berkat Bumbu yang Khas, Bakso Bakar Akbar Tak Pernah Sepi Pembeli
Tapi perjalanan Faiq tidak selalu mulus. Tantangan terbesar baginya adalah untuk bisa tetap konsisten.
“Awalnya sulit, apalagi untuk memulai sangat sulit. Tapi saya pikir, lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali. Setelah berjalan tantangannya ganti, untuk bisa terus konsisten, itu juga sulit” tambahnya.
Penulis: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

