BETANEWS.ID, PATI – Sudah hampir tiga pekan banjir mengepung Kabupaten Pati. Genangan air yang tak kunjung surut membuat roda perekonomian warga tersendat, bahkan nyaris lumpuh. Di tengah keterbatasan, sebagian besar warga kini hanya bisa bertahan hidup dengan mengandalkan bantuan.
Bagi warga yang masih memiliki tabungan, kebutuhan sehari-hari mungkin masih bisa terpenuhi. Namun kondisi tersebut jauh dari kenyataan yang dialami Masudah (52). Warga Desa Doropayung, Kecamatan Juwana itu mengaku kini tak lagi memiliki uang sama sekali setelah usaha kerupuk yang menjadi sumber penghidupan keluarganya terdampak banjir.
Baca Juga: Tak Cuma Ukir, Jepara Juga Krisis Regenerasi Pengrajin Remitan
“Kalau punya tabungan, ada yang diandalkan. Lha ini sudah gak punya sama sekali. Modal habis karena kerupuknya nggak jadi,” ungkapnya, Rabu (28/1/2026).
Selama bertahun-tahun, usaha kerupuk menjadi tumpuan ekonomi keluarga Masudah. Bahkan, sebelum banjir merendam permukiman warga tiga pekan lalu, aktivitas produksi masih berjalan seperti biasa.
“Waktu itu sudah jarang ada panas, dan kemudian langsung kebanjiran. Jadi kerupuknya belum sempat kering dan akhirnya busuk,” ucapnya.
Kini, Masudah hanya bisa mengandalkan uluran tangan dari berbagai pihak. Untuk tinggal bersama anaknya yang telah berumah tangga di luar daerah pun bukan pilihan mudah, lantaran ia masih harus menjaga kondisi rumahnya yang terdampak banjir.
“Kemarin sempat ikut anak di (Kecamatan) Kaliori (Kabupaten Rembang). Tapi kemudian memutuskan pulang untuk menengok rumah. Sampai sekarang tinggal di pengungsian,” sebutnya.
Masudah menuturkan, banjir tertinggi yang pernah menggenangi kawasan permukiman mencapai sekitar 1,5 meter atau setinggi leher orang dewasa. Meski saat ini kondisi mulai berangsur surut, genangan air masih cukup tinggi.
“Kemarin sempat surut, tapi semalam naik lagi karena jujan deras. Pas banjir paling tinggi itu ya sampai seleher,” sebut Masudah.
Nasib serupa juga dialami Fatonah (63), warga Doropayung lainnya. Selama ini, ia menggantungkan hidup dari berjualan jajanan di rumah serta di sekitar usaha ikan. Namun sejak banjir melanda, seluruh aktivitas ekonominya terhenti. Anak Fatonah yang bekerja di tambak ikan pun ikut terdampak.
“Sejak banjir melanda sudah tak bisa berjualan. Otomatis tak punya penghasilan,” bebernya.
Berbeda dengan Masudah, Fatonah masih memiliki tabungan hasil usahanya yang kini menjadi satu-satunya sandaran hidup. Meski demikian, tabungan tersebut terus terkuras seiring lamanya banjir belum surut.
“Tidak ada pemasukan jadi mengandalkan tabungan. Tapi ini tabungan sudah sangat menipis,” ucapnya.
Di tengah kondisi tersebut, Fatonah memilih bertahan di rumah meski sebagian besar tetangganya telah mengungsi. Ia terpaksa meninggikan lantai rumahnya sekitar satu meter agar tetap bisa ditempati saat banjir datang.
“Awalnya mengungsi ke rumah anak, tapi sudah beberapa hari ini tidur di rumah,” katanya.
Baca Juga: Mulai Dibangun 2027, Jalur Alternatif Sumanding-Tempur Bakal Difokuskan Jadi Jalur Mitigasi
Berdasarkan data, banjir di Desa Doropayung telah merendam lebih dari 800 rumah dan berdampak pada 1.475 warga. Sebagian besar warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka tak lagi layak ditinggali.
Data Pemerintah Desa Doropayung mencatat, sebanyak 56 jiwa saat ini mengungsi di posko pengungsian desa. Sementara sekitar 600 jiwa lainnya tersebar di berbagai lokasi, mulai dari rumah kerabat, Sanggar Tari, hingga eks Stasiun Juwana.
Editor: Haikal Rosyada

