31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Perpusnas Ungkap Tiga Kendala Utama Literasi di Indonesia

BETANEWS.ID, KUDUS – Sekretaris Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Joko Santoso, mengungkapkan bahwa upaya peningkatan literasi di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala mendasar. Sedikitnya ada tiga persoalan utama yang menjadi tantangan dalam membangun budaya literasi nasional.

Hal itu disampaikan Joko saat sambutan dalam agenda peresmian gedung perpustakaan di Kabupaten Kudus, Kamis (29/1/2026). Menurutnya, pembangunan gedung perpustakaan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, merupakan bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Baca Juga: Satu SPPG dengan SMA 2 Kudus, Beberapa Siswa di Sekolah Ini Ternyata Aman

-Advertisement-

“Membangun gedung ini, baik di provinsi maupun kabupaten, tidak lain merupakan upaya kami mendorong peningkatan kualitas SDM sebagai salah satu prioritas utama pembangunan Indonesia,” ujarnya.

Joko meyakini, keberadaan gedung perpustakaan yang representatif dapat menjadi pondasi kuat dalam membangun literasi masyarakat, terutama melalui kebiasaan gemar membaca yang diasah secara berkelanjutan.

Namun demikian, ia menyebut persoalan pertama dalam literasi nasional adalah konteks geografis Indonesia. Dengan lebih dari 18 ribu pulau, pemerataan akses literasi menjadi tantangan tersendiri.

“Upaya kami adalah memastikan setiap warga memiliki konektivitas terhadap layanan literasi. Karena itu, kami mendorong pendirian perpustakaan hingga pelosok desa, membangun ruang baca, serta menghadirkan layanan ekstensi melalui moda transportasi seperti mobil perpustakaan keliling,” jelasnya.

Permasalahan kedua yang dihadapi adalah ketersediaan konten atau bahan bacaan bermutu. Joko menyebut, Perpusnas terus menyalurkan bantuan buku ke berbagai daerah dan fasilitas publik.

Di Kabupaten Kudus, kata dia, terdapat 25 perpustakaan desa yang masing-masing menerima 1.000 buku. Selain itu, setiap tahunnya Perpusnas menyalurkan sekitar 10.000 buku tambahan. Secara nasional, sejak 2024 hingga 2025, Perpusnas telah mendistribusikan sekitar 20 juta buku ke seluruh jaringan perpustakaan.

“Buku-buku tersebut juga kami distribusikan ke 530 lembaga pemasyarakatan dan sekitar 1.000 puskesmas di seluruh Indonesia,” terangnya.

Adapun kendala ketiga adalah perubahan karakter generasi. Menurut Joko, generasi muda saat ini cenderung lebih akrab dengan teknologi digital dibandingkan buku cetak.

Baca Juga: Bupati Sam’ani Bakal Evaluasi SPPG di Kudus

Untuk menjawab tantangan tersebut, Perpusnas mengembangkan layanan perpustakaan digital agar lebih mudah diakses oleh masyarakat, khususnya anak muda. Salah satu platform yang dikembangkan adalah iPusnas, yang memungkinkan masyarakat mengakses koleksi buku digital secara nasional.

“Kami ingin generasi muda tetap dekat dengan literasi, meskipun medium yang digunakan berbeda. Karena itu, pengembangan perpustakaan digital menjadi langkah strategis,” ungkapnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER