BETANEWS.ID, KUDUS – Intensitas hujan di Kabupaten Kudus mulai menunjukkan peningkatan sejak awal pekan ini. Mengantisipasi potensi bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus telah menyiapkan serangkaian langkah mitigasi, termasuk apel kesiapsiagaan yang digelar lebih awal pada 4 November.
Kepala BPBD Kudus, Eko Hari Djatmiko, menjelaskan bahwa terdapat 33 desa yang berpotensi terdampak banjir, yang tersebar di Kecamatan Jekulo, Mejobo, Undaan, Jati, Kaliwungu. Sementara untuk bencana tanah longsor, BPBD mencatat 17 desa di Kecamatan Gebog dan Dawe masuk kategori rawan.
Baca Juga: Renovasi Lantai GOR Bung Karno Kudus Dikebut Jelang Forga Perpamsi Jateng 2025
“Di Desa Terban, Kecamatan Jekulo juga ada satu titik, tetapi dampaknya tidak terlalu besar sehingga belum kami masukkan ke daftar mitigasi utama,” ujar Eko.
Eko mengatakan, Kudus masih cukup beruntung karena karakter banjir di daerah ini dapat diprediksi. Hal tersebut dipengaruhi keberadaan dua aliran sungai besar, yakni Sungai Wulan dan Sungai Juwana.
Misal, kata dia, Ketika wilayah Grobogan diguyur hujan deras selama berhari-hari dan banjir maka bencana yang sama juga bakal terjadi di Kudus. Tetapi, air dari Grobogan ke Kudus butuh waktu sekira 8 jam.
“Waktu jeda itu cukup bagi kami untuk melakukan sosialisasi dan evakuasi jika diperlukan. Karena itu, pola aliran sungai menjadi keuntungan tersendiri dalam upaya mitigasi,” ujarnya.
Namun, jika hujan merata baik di wilayah selatan, utara, banjir jelas tak terelakan. Pada saat itu, harapannya tak ada tanggul sungai yang jebol.
“Untuk penanganan bencana kami siap. Termasuk juga sarana dan prasaranya juga sudah tersedia semua,” bebernya.
Untuk ancaman tanah longsor, ungkapnya, BPBD Kudus telah memasang tiga alat pendeteksi pergerakan tanah di Desa Menawan dan Rahtawu, Kecamatan Gebog. Dua tersebut memang paling sering mengalami bencana longsor.
Dari sisi kesiapan, pihaknya, menegaskan seluruh perlengkapan, mulai dari alat, mesin, hingga tenaga relawan telah disiapkan. Pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) juga terus dikebut. Saat ini, 86 dari total 123 desa telah memiliki Destana.
“Saya juga minta bantuan relawan dari berbagai ormas yang ada di Kudus untuk mendorong pemerintah desa segera membentuk Destana di wilayahnya masing-masing,” tambah Eko.
Baca Juga: Akademisi UMKU Nilai Relokasi Pasar Bitingan Perlu Analisa Mendalam, Pemkab Wajib Dampingi Pedagang
Ia berharap musim hujan tahun ini tidak memicu bencana besar di Kabupaten Kudus. Namun, seluruh elemen BPBD tetap bersiaga penuh.
“Kami berharap tidak ada bencana. Tapi kalaupun terjadi, secara alat, perlengkapan, maupun personel, kami sudah siap,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

