31 C
Kudus
Minggu, Februari 15, 2026

Hama Tikus Mengganas, Petani Jagung di Wukirsari Pati Gagal Panen

BETANEWS.ID, PATI – Raut wajah Sarlan, seorang petani jagung di Desa Wukirsari, Kecamatan Tambakromo, Pati, tak bisa menyembunyikan kekecewaan mendalam saat melihat hamparan lahan jagungnya yang rusak parah. Harapan untuk meraup untung dari hasil panen tahun ini sirna seketika akibat serangan hama tikus yang tak terkendali.

Sarlan menuturkan bahwa serangan tahun ini merupakan yang paling parah yang pernah ia alami. Jika pada tahun-tahun sebelumnya serangan hanya terjadi secara sporadis, kali ini tikus-tikus tersebut menyerang secara massal dan merata di seluruh wilayah desa.

Baca Juga: Polres Kudus Lakukan Sterilisasi dan Pengamanan Gereja Jelang Perayaan Natal 2025

-Advertisement-

Sarlan menjelaskan bahwa biaya modal yang dikeluarkan tidaklah sedikit. Untuk setiap hektare lahan, petani harus merogoh kocek hingga Rp10 juta untuk benih, pupuk, dan perawatan. Dengan kondisi saat ini, ia memastikan bahwa hampir 90% hingga 100% tanaman jagungnya gagal panen.

Kondisi ini menempatkan Sarlan dan rekan-rekan sesama petani dalam posisi sulit, terutama bagi mereka yang mengandalkan pinjaman bank untuk modal tanam.

“Kerugiannya puluhan juta rupiah. Sekarang banyak warga yang terpaksa pergi merantau, cari uang buat bayar utang bank karena di sini sudah tidak ada yang bisa dipanen,” ujarnya, Kamis (25/12/2025).

Ia berharap pemerintah segera turun tangan memberikan solusi jangka panjang untuk membasmi hama tikus yang telah melumpuhkan ekonomi warga Wukirsari.

Kepala Desa Wukirsari, Sulistiono mengungkapkan, bahwa serangan hama tikus sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak tahun 2023. Namun, intensitasnya tidak sedahsyat tahun ini. 

“Tahun 2025 ini puncaknya. Dari awal bulan pertama hingga sekarang masa tanam, serangannya merata hampir di satu desa,” ucapnya.

Menurut data pemerintah desa, sekitar 90% dari ratusan hektare lahan jagung di Wukirsari, termasuk lahan Perhutani, dipastikan tidak bisa dipanen. 

Kondisi ini membuat desa terasa lebih sepi karena banyak warga yang memilih merantau ke luar daerah seperti Kalimantan dan Sumatera demi mencari nafkah untuk menutupi modal tanam yang dipinjam dari perbankan.

Baca Juga: Capaian IKD Kudus Baru 6,77%, Keamanan Data Jadi Sebab Masyarakat Takut Aktivasi

“Kerugian petani rata-rata puluhan juta per hektare. Biaya tanam sendiri bisa mencapai Rp10 juta per hektare hingga masa panen,” tambah sang kades.

Meski pihak desa telah berkoordinasi dengan PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) kecamatan, bantuan obat-obatan yang dijanjikan hingga kini belum tiba. 

Warga dan pemerintah desa berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat untuk segera menangani wabah hama tikus ini agar perekonomian masyarakat tidak semakin terpuruk.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER