31 C
Kudus
Jumat, Januari 23, 2026

Mendikdasmen Soroti Budaya Literasi di Indonesia Minim, Penguatan Literasi Mulai Digalakkan

BETANEWS.ID, KUDUS – Upaya penguatan literasi nasional mulai digerakkan hingga ke tingkat sekolah. Hal ini tampak dalam peresmian Masjid Hajjah Kartinah dan perpustakaan H.A Djamjadi di kompleks Kampus 2 SD ‘Aisyiyah Multingual Darussalam, Desa Kaliwungu. 

Mendikdasmen, Prof. Abdul Mu’ti menilai, fasilitas ini sebagai langkah strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan dari akar rumput. Menurutnya, pembangunan masjid dan pengembangan perpustakaan bukan sekadar pelengkap sekolah, tetapi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang kuat secara keilmuan, spiritual, dan budaya baca.

Baca Juga: Relawan Destana Kudus Gelar Latihan Gabungan di Bendungan Logung

-Advertisement-

“Dua fasilitas ini harus dimanfaatkan secara maksimal, bukan hanya untuk murid, tetapi untuk masyarakat luas. Harapannya dapat meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan menjadi bagian dari membangun generasi unggul, sebagaimana Asta Cita keempat Presiden Prabowo,” ujarnya, Jumat (21/11/2025).

Setidaknya ada sekitar 3.500 buku telah tersedia, dikumpulkan dari bantuan Balai Bahasa, Badan Bahasa Kementerian, hingga donasi pribadi dari warga sekitar. Sebagai fasilitas baru, perpustakaan ini diproyeksikan menjadi ruang yang menumbuhkan budaya baca di lingkungan sekolah dan desa. 

“Perpustakaan ini bukan hanya untuk siswa. Masyarakat juga bisa memanfaatkannya, sehingga literasi menjadi gerakan bersama,” terangnya.

Budaya literasi di Indonesia, sebutnya, masih menjadi persoalan secara nasional. Berdasarkan data indeks literasi yang disebut UNESCO, tingkat literasi Indonesia berada di angka 0,001. Artinya, hanya satu dari seribu orang yang memiliki kebiasaan membaca secara konsisten.

“Ini tantangan sangat serius. Oleh karena itu, kami ingin memperkuat fungsi Badan Bahasa dan mendorong peningkatan literasi-numerasi melalui berbagai program afirmasi, pelatihan guru, dan distribusi buku,” katanya.

Di era pembelajaran digital, Kemendikdasmen juga mengembangkan platform Rumah Pendidikan yang menyediakan ribuan materi belajar gratis. Guru, siswa, hingga masyarakat umum dapat mengunduh buku dan bahan ajar dengan mudah.

Bukan hanya itu, masyarakat dan komunitas literasi juga dapat menyumbangkan buku digital melalui platform tersebut setelah dikurasi oleh Pusat Perbukuan. Langkah ini diharapkan memperluas akses bahan bacaan dan memperbaiki ekosistem literasi nasional.

Sementara itu, Kepala SD ‘Aisyiyah Multingual Darussalam, Amrina Faatihatun Nisa mengatakan, adanya dua fasilitas itu dapat memperkuat pendidikan berbasis ibadah dan literasi. Penamaan Masjid Hajjah Kartinah dan Perpustakaan H.A. Djamjadi sebagai bentuk penghormatan terhadap orang tua Prof. Abdul Mu’ti agar menjadi inspirasi bagi anak-anak. 

Baca Juga: Dana Belum Cair, SPPG Dersalam Bae Hentikan Operasional MBG Sementara

Penempatan masjid di lantai pertama dan perpustakaan di lantai kedua juga mengandung filosofi pendidikan.

“Fondasi iman kami letakkan di bawah, dan ilmu pengetahuan ditempatkan sebagai harapan dan cita-cita tinggi yang harus diraih. Semoga masjid dan perpustakaan ini dapat dimakmurkan dan menjadi wasilah lahirnya generasi yang berilmu sekaligus berakhlak,” tuturnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER