BETANEWS.ID, KUDUS – Ribuan anak dari berbagai penjuru Indonesia kembali memadati Audisi Umum PB Djarum 2025. Ajang tahunan ini menjadi salah satu pintu masuk bagi bibit-bibit muda bulu tangkis untuk merintis jalan menuju prestasi nasional bahkan internasional. Antusiasme tampak sejak hari pertama, dengan peserta datang tidak hanya dari Jawa, tetapi juga dari daerah jauh seperti Minahasa, Manado, hingga Papua.
Di tengah riuh rendah sorak dan derap kaki di lapangan, legenda bulu tangkis sekaligus pemandu bakat, Richard Mainaky, turut hadir memantau jalannya seleksi. Setelah pensiun dari Pelatnas, ia dipercaya PB Djarum untuk ikut menilai calon atlet di setiap audisi PB Djarum. Richard mengakui, antusiasme peserta tahun ini kembali meningkat.
Baca Juga: Bulutangkis Indonesia Kembali ke Jalurnya, Ketua PB Djarum Ingatkan Pentingnya Kaderisasi
“Kalau dulu pesertanya banyak dari Jawa, sekarang sudah lebih melebar. Dari Minahasa saja ada sembilan sampai dua belas orang yang ikut. Itu artinya audisi ini makin dikenal ke seluruh Indonesia,” ujarnya kepada awak media di GOR Bulutangkis PB Djarum, Jati Kudus, Senin (8/9/2025).
Meski jumlah peserta terus bertambah, Richard mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya justru datang setelah audisi. Pasalnya, dari ribuan peserta, hanya segelintir yang bisa bertahan hingga level Pelatnas.
“Kalau bicara teknik, hampir sama semua. Pukulan, footwork, grip, sudah mirip. Tapi PR (pekerjaan rumah) kita adalah bagaimana mereka berkembang setelah lolos karantina. Kenapa sampai di Pelatnas kita susah cari atlet? Itu yang jadi masalah,” katanya.
Mantan pemain ganda putra andalan Indonesia tersebut menekankan, faktor terpenting yang dilihat tim pencari bakat bukan hanya teknik, melainkan sikap. Menurutnya, attitude itu nomor satu.
“Banyak yang gagal bukan karena kemampuan, tapi karena sikapnya. Tidak disiplin, gampang puas, bahkan ada yang hancur kariernya karena urusan pacaran. Itu yang kita catat selama karantina,” ungkapnya.
Seleksi dengan sistem gugur, kata dia, juga kerap menjadi tantangan tersendiri. Ada peserta yang kalah tipis 19-21, padahal kualitasnya setara dengan pemenang di lapangan lain.
“Ini yang jadi bahan evaluasi tim. Belum tentu kalah kualitas, tapi sistem pertandingan membuatnya gugur,” jelasnya.
Richard mengapresiasi perkembangan kualitas atlet dari berbagai daerah. Ia menyebut cara memukul, footwork, hingga gaya permainan anak-anak Papua, Sulawesi, dan Jawa kini hampir setara. Hal itu, katanya, tidak lepas dari peran mantan atlet nasional yang aktif melatih di klub-klub daerah.
Dari pantauan hari pertama, Richard bahkan sudah mencatat beberapa nama yang menonjol, termasuk atlet U-11 asal Manado. Namun ia menolak memberi penilaian final.
“Yang jelas, bakat itu sudah terlihat. Tinggal bagaimana dibina ke depannya,” katanya.
Fenomena lain yang ia soroti adalah antusiasme berlebih dari orang tua. Ada yang memaksakan anaknya ikut audisi meski kemampuan masih dasar. Baginya, hal itu wajar karena audisi PB Djarum sudah dianggap bergengsi.
“Dapat kostum audisi saja sudah dipakai terus, tidak dicuci-cuci. Bagi mereka, tampil di lapangan Djarum sudah jadi kebanggaan,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski begitu, ia menilai pembinaan di daerah masih belum optimal. Fasilitas latihan, disiplin, dan kualitas pelatih masih rata-rata rendah. Ia menyarankan agar klub-klub besar menjalin kemitraan dengan daerah serta mengirim pelatih untuk magang di PB Djarum.
“Dari situ mereka bisa belajar standar kepelatihan yang benar. Nomor satu disiplin,” tegasnya.
Mengenai regenerasi, Richard menyebut sudah ada bibit-bibit masa depan yang menjanjikan. Pasangan ganda campuran muda Felisha-Jafar dan tunggal putra Alwi ia nilai punya prospek cerah. Namun, ia menekankan pentingnya keberanian pelatih dalam memberi prioritas kepada atlet muda.
Baca Juga: Selain Alwi, Atlet Jebolan PB Djarum Ini Jadi Harapan Baru Tunggal Putra Indonesia
“Saya sudah pernah diskusi dengan Eng Hian. Kita harus bikin tim elite khusus Olimpiade. Mereka harus dipisahkan, diberi fasilitas berbeda, fokus penuh. Dulu saya lakukan dengan Owi/Butet, Debby, dan Praveen. Hasilnya bisa emas,” kenangnya.
Bagi Richard, konsep tim elite terbukti efektif menjaga fokus atlet terbaik. Latihan bisa bareng, tapi konsentrasinya beda. Kalau konsisten, target emas itu bukan hal yang mustahil.
Editor: Haikal Rosyada

