BETANEWS.ID, KUDUS – Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum Kudus tak henti-hentinya melahirkan sejumlah atlet demi mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Atlet yang saat ini sedang naik daun adalah Moh. Zaki Ubaidillah atau yang akrab disapa Ubed.
Atlet jebolan Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum Kudus itu sudah menjadi bagian dari Pelatnas Cipayung dan kini menjadi salah satu andalan Indonesia di sektor tunggal putra. Bahkan pemain yang baru berusia 18 tahun tersebut digadang-gadang menjadi penerus Taufik Hidayat.
Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, Ini Sisa-Sisa Era Kolonial di Kabupaten Pati
Ketua PB Djarum sekaligus Program Direktor Bhakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin menilai Ubed memiliki potensi besar untuk bersaing di level dunia, asalkan diberi jam terbang dan kesempatan yang cukup.
Untuk itu, Yoppy berharap agar pemain itu dapat selalu diberi kesempatan bermain untuk mengasah kemampuan dan jam terbangnya menghadapi lawan-lawan kuat dari sejumlah negara.
“Ubed oke, bagus, dan perlu jam terbang tinggi. Dia bisa berkembang dengan bagus sepanjang dikasih kesempatan,” jelasnya.
Menurutnya, Ubed merupakan atlet jebolan PB Djarum yang kini mulai menembus persaingan di level BWF World Tour. Apalagi Ubed sudah masuk Super 300.
“Di Makau Open 2025, Ubed kalah dengan Alwi (rekan senegaranya). Pernah berjumpa dengan Chou Tien Chen bisa mengimbangi permainannya. Mudah-mudahan dia bisa berkembang terus,” tuturnya.
Tak hanya Ubed, Yoppy juga berharap kepada pemain jebolan Djarum lainnya yang saat ini dipasangkan dengan atlet muda Bernadine Anindya Wardana. Dia adalah Dejan Ferdinansyah yang sebelumnya dipasangkan dengan Siti Fadya.
“Dejan ini sedang mau dicoba dengan Bernadine usianya 19 tahun dari Djarum juga, ini mau dicoba. Karena rangking belum tinggi jadi harus di callange dulu, mudah-mudahan sih bisa menunjukan kualitasnya di callange dan merangkak naik, harapannya di tahun ini bisa masuk ke level super 300 BWF,” sebutnya.
Menurut Yoppy, pembinaan bulu tangkis di Indonesia saat ini sudah berjalan sesuai jenjang, hanya saja hasilnya tidak bisa instan dan memerlukan kesabaran dari seluruh pihak, termasuk masyarakat dan pemerhati olahraga.
“Pembinaan di Indonesia bagus, sudah sesuai jenjang. Tapi ya perlu kesabaran lah dari pemerhati badminton,” ungkapnya.
Baca Juga: Teksturnya Unik, Mekar Saat Digigit, Es Gempol Sriyatun Jadi Favorit Warga Jepara
Ia mengingatkan pentingnya menjaga kesinambungan pembinaan, agar regenerasi atlet berjalan tanpa celah. Menurutnya, fokus tidak boleh hanya tertuju pada para bintang saja, tapi juga pada proses kaderisasi.
“Jangan kalau ada bintang disorot terus, kadernya malah dilupakan. Gak boleh lupa. Harus konsisten dan holistik secara keseluruhan. Kalau tidak, nanti bolong-bolong dan itu gak bagus,” tegasnya.
Editor: Haikal Rosyada

