BETANEWS.ID, KUDUS – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Randu Gandeng Bersemi Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, mulai mengembangkan unit usaha peternakan domba. Langkah ini sejalan dengan program pusat di bidang ketahanan pangan yang dicanangkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes).
Kepala unit ternak BUMDes Randu Gandeng Bersemi, Noor Rochman mengatakan, pihaknya berinisiatif membangun peternakan domba sebagai salah satu produk unggulan desa. Fokus utama program ini adalah peningkatan kualitas genetik melalui perkawinan silang antara domba lokal dengan domba jenis dorper asal Australia.
Baca Juga: Angka Perceraian Tinggi, DPRD Kudus Bakal Gagas Perda Ketahanan Keluarga
Pengelolaan ternak domba di Randu Gandeng Farm itu dimulai sejak Desember 2024. Setelah mengikuti Rapat Koordinasi BUMDes dan Temu Mitra BUMDes pada Selasa (9/9/2025) dan Rabu (10/9/2025) di Ruang Rapat Natasangin Dinas PMD, BUMDes Peganjaran Randu Gandeng Bersemi memantapkan usahanya di Bidang Peternakan Kambing dengan harapan mampu mewujudkan Ketahanan Pangan di tingkat Desa pada bidang Perternakan.
“Kalau domba lokal biasanya beratnya sekitar 7 kilogram dalam tiga bulan, dorper bisa mencapai 22 kilogram di usia yang sama. Perawatannya juga relatif mudah, sehingga lebih menguntungkan,” katanya saat ditemui di lokasi, Senin (22/9/2025).
Saat ini, pengelolaan ternak domba di sana sudah ada total sekitar 50 ekor dari awalnya yang berjumlah 27 ekor indukan betina dan satu ekor dorper indukan jantan. Dari hasil persilangan kedua jenis domba tersebut menghasilkan anakan jenis domba F1 dan F2.
“F1 ini hasil persilangan antara dombos (domba Wonosobo) dan dorper. Sedangkan F2 hasil dari persilangan jenis F1 dan dorper,” ungkapnya.
Pembangunan kandang berukuran 12 x 6 meter dengan kapasitas 60 ekor ini menelan biaya Rp161 juta, bersumber dari Dana Desa (DD) yang dilimpahkan untuk pengembangan BUMDes. Luas lahan yang dimanfaatkan sekitar 15 x 28 meter.
“Kami sudah mengajukan penambahan kandang dan indukan lokal atau dombos ke desa. Tujuannya bukan semata hanya mencari keuntungan, tapi agar masyarakat juga merasakan manfaatnya,” ungkapnya.
Dengan adanya branding domba unggulan yang dicanangkan Pemdes Peganjaran itu, masyarakat bisa memanfaatkannya dengan memperbaiki genetik domba yang diternak. Hal itu agar dapat meningkatkan pendapatan warga dari segi penjualan domba yang dihasilkan dari persilangan tersebut.
“Karena untuk mendatangkan satu ekor indukan dorper ini, harganya mencapai Rp58 juta termasuk pajak dan biaya kirim. Jadi ini bisa dimanfaatkan masyarakat untuk memperbaiki genetik ternak,” ujarnya.
Menurutnya, di Desa Peganjaran saat ini terdapat tiga peternakan domba berskala besar. Dengan branding yang konsisten selama minimal dua tahun, Noor berharap usaha ternak BUMDes ini bisa menjadi produk unggulan daerah.
“Kami berharap ada dukungan dari berbagai pihak, agar pengembangan ternak di sini bisa lebih maju dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tambahnya.
Baca Juga: Sejarah Kudus Kulon Jadi Pusat Industri Rokok Hingga Simbol Identitas Kretek yang Melekat
Selain unit peternakan, BUMDes Randu Gandeng Bersemi juga mengelola program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Program ini sudah dimanfaatkan sekitar 200 kepala keluarga (KK) dari total 2.800 KK di Desa Peganjaran.
“Dari hasil Pamsimas, BUMDes memberikan kontribusi ke desa sebesar 20 persen per tahun. Mulai berjalan sejak Agustus 2023, pada tahun 2024 sudah bisa memberikan Rp2 juta lebih untuk desa,” jelasnya. (adv)
Editor: Haikal Rosyada

