BETANEWS.ID, PATI – Siapa sangka gulma air seperti eceng gondok bisa menjadi kunci sukses panen padi. Inilah yang dialami Kamelan, seorang petani asal Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati. Berkat penggunaan pupuk berbahan dasar eceng gondok, ia berhasil memanen lebih dari 10 ton gabah dari lahan seluas satu hektare.
Keberhasilan ini bukan datang begitu saja. Kamelan mengikuti pendampingan dari Komunitas Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan) dan Serikat Petani Pati, yang konsisten mengembangkan metode pertanian ramah lingkungan.
Baca Juga: Mulai Bulan Ini Lima Hari Sekolah Berlaku di Pati, Disdikbud Pastikan Sudah Disosialisasikan
“Untuk penghitungan pasti kami lakukan saat dikeringkan. Namun melihat hasil ubinan lebih dari 10 ton,” ujar Kamelan saat ditemui usai melakukan ubinan panen pada Senin (7/7/2025).
Hasil ubinan menunjukkan berat 6,8 kilogram, yang bila dikonversi, mencapai potensi hasil panen 10,880 ton per hektare. Sebuah lonjakan signifikan dari panen sebelumnya.
Menurut Kamelan, pupuk organik dari eceng gondok membawa banyak manfaat, mulai dari menghemat biaya hingga menyuburkan tanah.
“Pupuk dari eceng gondok itu meningkatkan hasil panen. Selain itu, menyuburkan tanah dan pupuknya lebih ramah lingkungan daripada kimia,” imbuhnya.
Ia bahkan mencatat efisiensi biaya produksi yang cukup signifikan.
“Dari biaya operasionalnya sendiri hemat antara 10 hingga 20 persen dibandingkan pakai pupuk kimia,” lanjutnya.
Sementara itu, Ali Mustofa, formulator pupuk dari Komunitas Jampisawan menjelaskan, bahwa pupuk yang digunakan Kamelan berbahan dasar eceng gondok dari Sungai Juwana. Tanaman liar yang kerap menyulitkan nelayan itu kini diolah menjadi pupuk berbentuk cair dan padat yang kaya akan asam humat.
“Bahan dasarnya dari eceng gondok yang kami ambil dari Sungai Juwana. Dimana eceng gondok itu saat ini cukup mengganggu nelayan. Diproses jadi asam humat padat dan cair,” kata Ali.
Pupuk ini bukan hanya menyuburkan tanah, tapi juga menutrisi tanaman secara optimal karena mengandung mikroba baik yang membantu menyerap unsur hara dan melindungi dari penyakit tanaman.
“Biaya untuk tanaman juga rendah. Karena tahan dari penyakit jadi tak perlu banyak obat,” imbuhnya.
Baca Juga: Soal Pemisahan Pemilu Nasional dan Daerah, Cak Imin: “Terserah DPR”
Tak berhenti di situ, Ali juga memperkenalkan formulasi tanam tiga langkah yang sedang diuji di lahan percontohan Jambean Kidul. Mulai dari penguraian jerami dengan microbakteri, penggunaan asam humat cair, hingga penambahan asam amino produksi Jampi Sawan.
“Jadi jerami yang ada di sawah dapat diurai dengan cepat sehingga jadi pupuk juga. Kemudian diberi asam humat cair untuk memproduksi unsur hara berlimpah. Langkah ketiga diberi asam amino untuk ketahanan penyakit membuat batangnya kuat,” jelasnya.
Editor: Haikal Rosyada

