Caping Kalo Mejeng di Pameran Abirama Purbakala, Upaya Kenalkan Kearifan Lokal Secara Luas

BETANEWS.ID, KUDUS – Caping kalo, salah satu produk kriya khas Kudus yang dirancang dengan teknik anyaman rumit, ikut dipamerkan dalam Pameran Temporer Cagar Budaya bertajuk “Abirama Purbakala Patiayam” di Museum Situs Purbakala Patiayam, Jumat (25/7/2025). Produk ini menjadi salah satu bentuk upaya memperkenalkan kearifan lokal Kudus ke khalayak luas.

Sebagaimana diketahui, pameran tersebut diramaikan berbagai museum ternama di Indonesia yang ikut ambil bagian dalam kegiatan itu. Setidaknya ada enam museum dan berbagai produk ekonomi kreatif Kudus andil dalam ajang memperkenalkan kearifan lokal budaya Kudus tersebut.

Baca Juga: Desa Terban Tak Setuju Tukar Guling Tanah Museum Patiayam, Supeno: “Harapan Kami Tetap Sepadan”

-Advertisement-

Suyati, perajin dengan produk yang dinamai Suyaticraf menyampaikan, rasa terimakasih dan syukurnya telah dilibatkan dalam agenda rutin tahunan tersebut. Menurutnya, caping kalo buatannya mengangkat nilai estetika dan budaya tradisional warisan leluhur.

“Ketika sebuah produk dilihat banyak orang, maka akan dikenal secara luas. Sehingga ini momentum bagus sebagai ajang promosi produk yang lebih efektif,” bebernya saat ditemui di sela kegiatan, Jumat (25/7/2025).

Ia mengaku, mulai merintis usaha kerajinan sejak tiga tahun lalu. Bermula dari produk kerajinan eceng gondok yang disulap menjadi berbagai produk bernilai tinggi, Suyati kemudian merambah dengan memproduksi caping kalo, produk khas Kudus.

“Kalau untuk produksi caping kalo baru satu tahun terakhir ini. Jadi untuk pasarannya juga belum begitu besar,” jelasnya.

Produk yang dibuat secara detail dengan menghabiskan waktu sampai 10 hari itu berbahan bambu yang dianyam satu persatu menjadi satu kesatuan. Menurut dia, pembuatannya sangat rumit, sehingga waktu pengerjaannya terbilang lama.

“Caping kalo ini anyamannya sangat rumit, terutama yang original. Bambu diirat sekecil rambut, terus dianyam satu per satu. Prosesnya bisa sampai sepuluh hari untuk satu caping,” jelasnya.

Harga caping kalo original bisa mencapai Rp500 ribu, sepadan dengan tingkat kesulitan dan detail pengerjaannya. Sementara versi KW (kualitas biasa) dijual mulai harga Rp125 ribu hingga Rp300 ribu, dengan proses produksi yang lebih cepat. Bahkan bisa tiga unit per hari.

“Kalau KW itu anyamannya besar-besar, lalu dilapisi kain. Bagian pinggirnya juga hanya pakai bambu biasa. Berbeda dengan original yang semua detailnya dibuat hati-hati,” ungkapnya.

Suyati mengaku, hingga kini baru sekitar 20 unit caping kalo buatannya laku di pasaran. Empat di antaranya merupakan produk original dan sisanya produk kw.

“Untuk pesanan biasanya datang dari sekolah-sekolah di Kabupaten Kudus saja. Kalau sampai ke luar daerah saat ini belum,” tuturnya.

Baca Juga: Ketahanan Pangan Terintegrasi di Desa Kandangmas Diharapkan Jadi Role Model Bagi Desa Lain

Lewat pameran ini, ia berharap produknya bisa menjangkau pasar yang lebih luas dan membuka mata masyarakat bahwa Kudus juga punya warisan kriya yang unik dan bernilai seni tinggi.

“Selama ini orang-orang hanya tahu caping kalo dari Jepang dan Gulang. Padahal kami juga produksi sendiri di Bulungcangkring. Harapannya dengan ikut pameran seperti ini, caping buatan kami bisa makin dikenal,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER