BETANEWS.ID, PATI – Inovasi membanggakan kembali lahir dari pelajar Indonesia. Kali ini datang dari siswa SMK PGRI 2 Kayen, Kabupaten Pati, yang sukses mencuri perhatian dunia lewat alat canggih bernama X-AntukĀ Smartband, sebuah pendeteksi kantuk khusus untuk sopir.
Karya brilian dari Muhammad Fajar Diva Audiansyah ini, berhasil menyabet medali perak dalam ajang bergengsi International Greenwich Olympiad (IGO) yang digelar di London, Inggris pada 27 Juni 2025 lalu. Ajang tersebut diikuti inovator-inovator muda dari berbagai negara. X-Antuk Smartband menjadi salah satu inovasi yang paling menarik perhatian dewan juri.
Baca Juga: Kasus HIV/AIDS di Pati Tembus 1.447, Dinkes Sebut Itu Bukti Keberhasilan Skrining
Fajar Diva berhasil menunjukkan prestasinya meski harus bersaing dengan 350 finalis lainnya dari 53 negara di dunia. Seperti Cina, Korea Selatan, Jerman,Belanda, Oman hingga Colombia, Inggris dan Jepang.
Inovasi X-Antuk Smartnand ini, sebelumnya juga berhasil menyabet juara Indonesian Science Project Olympiad (ISPO).
Fajar menyebut inovasi itu berawal dari keresahan akibat tingginya angka kecelakaan yang diakibatkan micro sleep.Atau rasa kantuk yang terjadi dalam waktu yang tiba-tiba.
“Akhirnya kami mencoba membuat alat pendeteksi dan pencegah rasa kantuk ini untuk menimalisir kecelakaan akibat micro sleep. Cara kerjanya alat akan dipasangkan di pergelangan dan dua jari sopir. Nantinya alat tersebut akan memonitor denyut jantung, saturasi oksigen, resistasi kulit dan konduktansi kulit,” ujarnya.
Saat dua dari empat indikator terpantau di bawah standar, maka alat yang dinamakan X-Antuk Smartband itu akan memberikan peringatan lewat getaran dan suara keras. Dengan begitu, diharapkan sopir bisa segera waspada dan dapat berhenti untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
“Alat ini juga akan mengirimkan notifikasi ke smartphone pengendara jika terindikasi sopir mengantuk,” imbuhnya.
Ia mengatakan, keunggulan inovasinya berupa adanya empat sensor sekaligus. Mulai deteksi denyut jantung, saturasi oksigen, serta resistensi dan konduktansi kulit.
“Setelah berhasil lolos di tingkat nasional kami diberikan rekomendasi untuk maju di IGO London. Kami bersyukur bisa mendapatkan silver medal,” sebutnya.
Sementara, Ketua Divisi Sains SMA PGRI 2 Kayen, Muhammad Rouf mengaku bangga atas prestasi yang ditorehkan Muhammad Fajar Diva Audiansyah. Dia menyebut butuh waktu setahun dalam project tersebut.
“Dalam sains, kami selalu menggali permasalahan di sekitar masyarakat. Permasalahan itu kemudian kami cari refensi dan literatur untuk menjadi bahan dalam sains yang diteliti. Meski dengan keterbatasan alat, namun kami bersyukur temuan X-Antuk itu bisa meraih prestasi di tingkat internasional,” ungkapnya.
Kepala SMA PGRI 2 Kayen, Fitri Maria Ulfah mengatakan, keberhasilan siswanya dalam ajang IGO merupakan prestasi yang menggembirakan. Dia akan berupaya agar hasil temuan itu nantinya dapat diproduksi secara massal lantarna memiliki nilai manfaat yang besar terutama bagi para pengendara.
“Kami tengah berusaha bekerjasama dengan pemerintah agar bisa mendapatkan hak paten atas temuan X-Antuk itu. Selain itu kami juga berupaya menjalin kerjasama dengan berbagai pihak khususnya Dinas Perindustrian untuk menggandakan temuan itu,” katanya.
Maria menyebut, SMA PGRI 2 Kayen memang memiliki perhatian besar terhadap dunia sains. Saat ini, sekolah yang dipimpinnya itu bahkan telah berhasil meraih 17 prestasi tingkat internasional.
“Sementara dua tahun terakhir ini sudah delapan kali medali internasional yang kami raih. SMA PGRI 2 Kayen memang memiliki brand SMA Sains and Vocation. Kami akan berupaya agar selalu meraih prestasi internasional di bidang sains terapan atau murni,” ucapnya.
Baca Juga: Wabup Pati Dukung Aksi Warga Patungan Perbaiki Jalan: āUntuk Kebaikan, Ya Kita Dukungā
Untuk mendukung upaya itu, sekolah kini telah membuat kelas bakat minat serta ekstrakurikuler terkait sains.
“Minat siswa kami juga cukup tinggi. Kami juga mengadakan seleksi untuk mencari bibit unggul yang memiliki jiwa fighter di bidang penelitian,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

