BETANEWS.ID, KUDUS – Peluang Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) untuk membuka Fakultas Kedokteran (FK) mendapat perhatian serius dari Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah. Pasalnya, pendirian FK bukanlah perkara yang mudah dan perlu perencanaan matang.
Majelis Diktilitbang, dr. Joko Murdiyanto, menegaskan bahwa pendirian Fakultas Kedokteran jauh lebih kompleks dibandingkan program studi lainnya. Menurutnya, tantangan terbesar terletak pada tata kelola dan ketersediaan sumber daya manusia (SDM).
Baca Juga: Kuliah Sambil Bekerja, Amy dari Blora Sabet Lulusan Terbaik UMKU 2025
“Silakan jika ingin membuka Fakultas Kedokteran, tapi harus benar-benar dihitung. Bukan hal mudah, karena tata kelolanya tidak seperti prodi biasa,” ujar Joko saat ditemui usai acara wisuda UMKU ke-29 di Crystal Building, belum lama ini.
Sebagai perbandingan, kata Joko, program studi lain cukup dengan lima dosen, sementara Fakultas Kedokteran wajib memiliki minimal 26 dosen, termasuk dokter spesialis yang tidak mudah dicari.
Ia juga mengingatkan soal potensi kelebihan jumlah dokter (oversupply) di masa depan. Meski menurut Kementerian Kesehatan saat ini jumlah dokter di Indonesia masih kurang, dengan asumsi penghitungan 1 banding seribu.
“Saat ini, sudah ada 144 Fakultas Kedokteran di Indonesia. Kalau dirata-rata per tahun satu universitas meluluskan 100 dokter, maka dalam 10 tahun sudah ada berapa puluh ribu dokter baru,” jelasnya.
Dia mengatakan, saat ini masalahnya bukan lagi jumlah, tetapi penyebaran dokter yang belum meratan. Dan harusnya, hal tersebut yang harus jadi perhatian semua pihak.
“Di Jawa Tengah saja Fakultas Kedokteran itu jumlahnya lebih dari 10. Di Semarang ada 9 Fakultas Kedokteran. Tentunya persaingan untuk mendapatkan mahasiswa akan semakin ketat. Jadi, kalau memang UMKU mau buka Fakultas Kedokteran, saya sudah minta pak rektor tolong dihitung betul,” sebutnya.
Sementara itu, Rektor UMKU, Dr. Edy Soesanto menyatakan pihaknya sedang melakukan kajian menyeluruh terkait peluang membuka Fakultas Kedokteran. Ia menyadari syaratnya cukup berat, mulai dari akreditasi unggul, sarana prasarana, hingga SDM yang terbatas.
“Di Kudus, jumlah dokter spesialis sangat minim. Itu tantangan besar bagi kami,” kata Dr. Edy.
Baca Juga; Wisuda ke-29 UMKU, Rektor Dorong Lulusan Jadi Generasi Trengginas
Ia juga mencermati fenomena di mana beberapa FK swasta kesulitan mendapatkan mahasiswa baru, meski ada juga yang justru kelebihan pendaftar. Hal ini menunjukkan perlunya strategi yang tepat sejak awal.
“Kami akan berhati-hati dan tidak tergesa-gesa. Jika nantinya FK benar-benar dibuka, maka keputusan tersebut akan diambil berdasarkan kesiapan yang matang dan berkelanjutan,” ujarnya.
Editor: Haikal Rosyada

