BETANEWS.ID, JEPARA – Lantunan suara adzan dan air kendi yang disiramkan mengelilingi rombongan kirab menjadi pertanda dimulainya prosesi tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.
Usai Iqamah, seorang perangkat desa kemudian menyalakan obor dan rombongan kirab berjalan dari kediaman Petinggi menuju perempatan desa. Disana lantunan doa kembali diucapkan, memohon keselamatan selama berlangsungnya kegiatan.
Baca Juga: Hanya Ada Satu, SLB di Jepara Diusulkan Ditambah
Bupati Jepara, Witiarso Utomo kemudian menyulut obor pertama sebagai pertanda dimulainya tradisi perang obor. Para pemain kemudian bersiap saling menyerang dengan obornya masing-masing.
Tidak berselang lama, perempatan Desa Tegalsambi dipenuhi oleh kobaran api yang memukau ribuan penonton yang hadir. Total sebanyak 400 obor ludes dimainkan oleh 40 orang pemain dalam waktu sekitar satu jam.
Meskipun pelaksanaannya berlangsung meriah, Bupati Jepara, Witiarso Utomo berharap pada tahun depan tradisi perang obor berlangsung lebih meriah dengan di isi berbagai rangkaian acara.
Sehingga nantinya tradisi tersebut tidak hanya disaksikan oleh masyarakat dari Kabupaten Jepara, tetapi juga mampu menyedot wisatawan.
“Alhamdulillah tradisi perang obor tahun ini berjalan lancar, meriah, tapi kita ingin tahun depan lebih meriah. Di area perang obor nanti akan kita tambah penerangan, kemudian ada lighting yang lebih bagus, sehingga bisa dikenal seluruh nasional,” katanya di kediamaan petinggi Desa Tegalsambi, Senin (9/6/2025) malam.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Tegalsambi, Agus Santoso mengatakan ke depan rencananya rangkain kegiatan dari perang obor akan ditambah. Sehingga nantinya bisa membuat pengunjung atau wisatawan bisa bertahan lebih lama untuk berlibur di Kabupaten Jepara.
Baca Juga: Pernah Direlokasi Tahun 1984, Pesisir Tanggultlare Jepara Kembali Terancam Abrasi
“Kalau tahun ini kita tambah pelaksanaan fashion show yang membuat anak-anak muda kita terinspirasi untuk membuat batik perang obor, ke depan dan mengenalkan makanan tradisional. Sesuai arahan, pra acara ini akan kita buat lebih lama paling tidak tiga bulan,” ujarnya.
Sebagai informasi, Perang Obor sendiri merupakan tradisi yang setiap tahun diadakan oleh masyarakat Desa Tegalsambi sebagai wujud rasa syukur dan bentuk tolak bala dari segala musibah.
Editor: Haikal Rosyada

