BETANEWS.ID, PATI – Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan) memberikan respon terkaitĀ bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pati belakangan ini. Bencana tersebut dinilai akibat kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Juru Bicara Jampisawan, Ari Subekti menilai, banjir terjadi pada pertengahan tahun ini menjadi fenomena tidak biasa. Menurutnya, ini menunjukkan gagalnya penanganan kerusakan DAS yang sudah parah.
Baca Juga:Ā Harap Bersabar, 836 PPPK Tahap 1 di Jepara Baru Dilantik Oktober MendatangĀ
“Ini fenomena baru menurut saya. Di bulan seperti ini biasanya turun hujan tidak banjir. Selain kerusakan di tingkat DAS yang sangat parah, sampai saat ini tidak ada intervensi apapun, misal ada intervensi dari pemerintah, tapi semuanya gagal. Baik itu penghijauan atau macam-macam,” ujar Ari.
Ia mengatakan, bahwa daerah di bawah terutama yang di sisi kanan dan kiri Sungai Juwana sering mendapatkan kiriman banjir dari hulu. Baik itu dari Kendeng maupun Muria. Namun, masyarakat tak pernah dilibatkan dalam penanganan DAS.
“Pengelolaan DAS harus melibatkan masyarakat. Tidak bisa masyarakat hanya diberi tanaman dan disuruh nanam , setelah itu di tinggal. Tapi tidak ada program perawatan yang kemudian bisa menyukseskan soal penghijauan itu. Kedua soal Sungai. Terkait masyarakat yang tinggal di kiri kanan, baik di sungai Silugonggo yang besar ini, maupun anak sungai yang tidak besar, saya pikir yang penting itu melibatkan masyarakat. Jadi mereka diajak supaya bareng-bareng merawat sungai yang setelah dikeruk itu,” ucapnya.
Baca Juga:Ā Pemkab Jepara Siapkan 9 Hewan Kurban di Hari Raya Idul Adha
Ari menilai, selama ini, pemerintah dalam hal ini Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) hanya fokus pada pembangunan fisik saja. Namun hal itu disebut tidak memperhatikan penanganan banjir jangka panjang.
“Selama ini kami melihat BBWS hanya mengandalkan pembangunan fisik saja. Tanpa menyentuh pembangunan SDM, pendidikan masyarakat di kiri kanan sungai,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

