BETANEWS.ID, KUDUS – Di depan Pasar Kaliputu, Kudus, seorang perempuan lanjut usia terlihat sibuk membungkus bubur satu per satu. Setelah memastikan porsinya pas, ia memasukkannya ke dalam kantong plastik dan menyerahkannya kepada pembeli.
Sore itu, perempuan bernama Kiswati (69) itu nyaris tak sempat beristirahat. Pembeli datang silih berganti, mayoritas mencari bubur candil dan sum-sum yang manis dan lembut di lidah.
Disela-sela kesibukannya, Kiswati sudi berbagi cerita tentang perjalanan usahanya. Ia mengaku bukanlah sosok yang baru di dunia kuliner. Dia mulai berjualan bubur sekitar tahun 1994, tetapi sebelum itu, Kiswati sempat berjualan pecel.
Baca juga: Laris Manis, Bakso Siraos Khas Bandung Ini Jadi Favorit Mahasiswa UMK
Sayangnya, bisnis pecelnya tidak berjalan lancar karena suaminya yang kala itu kecanduan judi, membuat penghasilannya kerap habis tak bersisa.
“Dulu saya jualan pecel, tapi uangnya nggak ada karena suami saya suka main judi. Jadi, hasil jualan selalu habis,” kenangnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Melihat usahanya tak menghasilkan, Kiswati akhirnya memilih menjadi pembantu rumah tangga di rumah tetangganya, Cik Wi. Tak disangka, keputusan itu justru membuka jalan baru baginya.
Saat bekerja sebagai pembantu, Kiswati mendapat simpati dari majikannya. Melihat kondisi keuangannya yang sulit, Cik Wi pun mengajarinya cara membuat bubur yang enak.
“Waktu itu dia cuma kasih contoh sekali, habis itu saya coba bikin sendiri,” katanya.
Dengan bekal ilmu yang diberikan Cik Wi, Kiswati mulai berjualan bubur di pagi hari, dari pukul 05.00 hingga 08.00. Awalnya, ia hanya menjual empat jenis bubur, yaitu bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur sum-sum, dan bubur coco. Harganya pun masih sangat murah, hanya Rp750 per porsi.
Baca juga: Kue Gandos di GOR Kudus Ini Sudah Berjalan 3 Generasi, Resepnya Masih Otentik
Keputusannya berjualan bubur ternyata menjadi langkah yang tepat. Usahanya terus berkembang, hingga kini ia mampu bertahan lebih dari 30 tahun. Harga buburnya pun mengikuti perkembangan zaman, dari Rp750 rupiah hingga menjadi Rp6.000 per porsi.
“Alhamdulillah, usaha ini lumayan menjanjikan. Setiap hari saya bisa dapat Rp500 ribu hingga Rp1,2 juta,” ujarnya.
Penulis: Ihza Miftahul Huda, Mahasiswa Magang Unisnu Jepara
Editor: Ahmad Rosyidi

