BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu, di Jalan Proliman, Desa Barongan, Kecamatan/Kabupaten Kudus, sebuah kendaraan roda tiga berwarna merah dengan tulisan mencolok “Sego Aking Godong Jati” tampak dikerubungi banyak pelanggan. Di atas kendaraan tersebut, seorang perempuan berhijab cokelat terlihat sibuk melayani pembeli dengan cekatan.
Wanita bernama Sari (20) itu memulai usahanya pada 2022, saat pandemi Covid-19 melanda. Kala itu, dirinya mulai menjual Sego Aking secara online dari rumah.

“Awal jualan kita online di rumah, waktu itu karena pandemi corona. Setelah itu baru memutuskan jualan di sini,” ungkap Sari, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Mieago Bang Doel, Inovasi Mi Ayam Goreng yang Jadi Favorit Anak Sekolah
Lokasi strategisnya di area Poroliman, dekat perempatan Barongan yang ramai lalu lintas, menjadi salah satu kunci kesuksesan usahanya. Kini, ia menetap berjualan di depan deretan ruko, dengan pelanggan setia yang datang silih berganti setiap pagi.
Sego Aking buatan Sari memiliki ciri khas yang menarik perhatian pembeli. Nasi aking yang diolah kembali ini dibungkus dengan daun jati, menambah aroma khas dan cita rasa yang unik. Ditambah lagi, harga yang sangat terjangkau, mulai dari Rp4.000 hingga Rp8.000 per porsi.
Pembeli juga dapat memilih lauk tambahan seperti mendoan, jengkol, ceker, atau telur dadar untuk melengkapi hidangan. Menariknya, Sego Aking ini diklaim memiliki khasiat membantu mengurangi kadar gula darah bagi penderita diabetes.
“Ada khasiatnya, bukan untuk menghilangkan penyakitnya, tapi lebih ke mengurangi gula darah,” jelas Sari.
Sari memaparkan, Sego Aking dibuat dari nasi yang dikeringkan hingga menjadi karak. Setelah benar-benar kering, nasi direndam semalaman, kemudian diolah kembali dengan cara dikukus bersama parutan kelapa. Proses ini membuat rasanya gurih alami, sekaligus mempertahankan tekstur unik yang menjadi daya tarik.
Baca juga: Susah Cari Kerja, Bima Nekat Rintis Jualan Takoyaki yang Kini Laris Manis
Meski sederhana, usaha ini mendatangkan omzet yang tidak main-main. Dalam sehari, Sari mampu menjual hingga 90 bungkus nasi, dengan penghasilan mencapai Rp900 ribu hingga Rp1 juta. Minimnya pesaing di area tersebut juga menjadi keuntungan tersendiri bagi Sari.
“Kami buka mulai pukul 05.15 WIB sampai 09.00 WIB. Alhamdulillah, hampir tidak pernah sepi pembeli,” katanya dengan senyuman.
Penulis: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

