BETANEWS. ID, PATI – Sekaten, merupakan salah satu tradisi tahunan yang rutin digelar di Keraton Solo untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad atau Maulid Nabi. Tradisi serupa juga digelar di Sukolilo, Pati dengan nama Meron. Tradisi ini juga menjadi salah satu perayaan yang dinanti-nanti oleh masyarakat setiap tahunnya.
Sekretaris Panitia Kegiatan Meron, Triyono, menjelaskan, sejarah Meron tak lepas dari tradisi yang ada di Kerajaan Mataram, yakni Sekaten. Awalnya itu saat prajurit Mataram menyerang Kadipaten Pati.
“Nah ketika itu, prajurit Mataram tersebut singgah di Sukolilo. Dan kebetulan waktu itu, pas perayaan Maulid Nabi. Maka mereka juga merayakan seperti tradisi yang ada di Mataram. Tapi kalau di sana namanya Sekaten, di sini dinamai Meron,” ujarnya, Selasa (17/9/2024).
Baca juga: Melihat Kemeriahan Puncak Festival Muria Raya di Jepalo Pati
Ia menjelaskan, nama Meron merupakan singkatan yang dalam bahasa Jawa yaitu “mempere keraton” atau seperti keraton. Yakni, hampir sama seperti apa yang dilaksanakan di keraton atau Kerajaan Mataram.
Dirinya menyebut, Tradisi Meron sudah diperingati sejak ratusan tahun lalu, yakni sejak 1628 Masehi. Tradisi tersebut, terus dilaksanakan hingga kini oleh masyarakat Sukolilo.
Bahkan katanya, Tradisi Meron ini juga sudah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kemendikbudristek. Bukan hanya itu saja, Meron juga diakui sebagai kekayaan intelektual komunal yang tercatat di Kemenkumham.
Triyono menyampaikan, bahwa dalam tradisi ini meron atau gunungan yang dibawa sebanyak 13. Gunungan itu, berasal dari kepala desa dan perangkat.
Baca juga: Guyang Cekathak, Tradisi Bersihkan Pelana Kuda Sunan Muria Hingga Doa Meminta Hujan
“Gunungan itu ada namanya once. Once merupakan lambang atau simbol dari tameng prajurit. Nah rakyat atau warga ini merebutkan itu. Dengan keyakinan, bahwa itu membawa keberuntungan. Yang dagang bisa laris, yang tani pertaniannya bisa subur dan lain sebagainya,” ucapnya.
Sementara itu, Siti Lutfiatul Fadilah menyampaikan, dirinya selalu ikut menyaksikan ketika tradisi Meron tersebut digelar.
“Kebetulan rumah, kan, dekat sini juga. Jadi selalu datang untuk melihat Meron. Pasti ramai kalau ada kegiatan ini,” ungkapnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

