BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebuah kediaman warga Dukuh Santren RT 2 RW 2, Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, terlihat seorang wanita sedang menjahit kerudung sekolah. Mata dan tangan wanita bernama Siti Syafaah itu tampak begitu telaten melihat hasil jahitannya agar tak ada yang cacat.
Di tahun ajaran baru ini, tempat prosuksinya memang kebanjiran pesanan kerudung sekolah. Bahkan menurutnya, tahun ini ia menerima pesanan 7.500 kerudung dari sejumlah sekolahan. Tak hanya dari Kudus, permintaan itu juga datang dari Jepara.
Hal tersebut tak terlepas dari jerih payahnya saat merintis usaha konveksi yang dibangun dari nol itu. Wanita yang kini berusia 50 tahun itu menuturkan, merintis usaha tersebut pada 2014 dengan modal selembar kain.
Baca juga: Syafa’ah Collection Kudus Kebanjiran Order Kerudung Seragam Sekolah
“Sebelumnya, saya bordir kebaya. Karena permintaan sepi kemudian mencoba melayani pesanan kerudung. Sebab, saya pikir kerudung ini produk yang tidak ada matinya. Artinya setiap hari pasti dibutuhkan dan selalu dipakai,” bebernya, Kamis (11/7/2024).
Dalam memulai usaha tersebut, ia menyasar sekolahan. Dengan menjual kualitas, satu demi satu sekolahan tertarik dengan produknya. Kini setidaknya sudah ada tujuh sekolah di Kudus, baik sekolah besar maupun kecil, berlangganan di sana.
“Nah selama lima tahun awal, hasil keuntungan saya limpahkan semua untuk pengembangan usaha. Jadi memang uang hasil kerudung itu tidak saya pakai buat lainnya, hanya untuk di usaha ini. Alhamdulillah usaha semakin berkembang dan kini sudah menikmati hasil keuntungannya,” tuturnya.
Ia menjelaskan, tak hanya melayani pembuatan kerudung sekolah, usaha tersebut semakin berkembang dengan adanya pesanan mukena yang awalnya permintaan tetangga. Meski begitu, semakin hari, pesanan mukena juga datang dari sekolahan.
“Untuk saat ini dalam melayani permintaan pesanan, saya punya 13 tenaga borong. Ada yang bagian potong kain, menjahit, dan tenaga bordir. Itu saja saat ini masih kewalahan untuk melayani permintaan. Jadi saya terbuka bagi yang berminat mencari kerja untuk bantu menyelesaikan pesanan yang ada,” ujarnya.
Baca juga: Kisah Agus, Pekerja Serabutan yang Kini Naik Kelas dari Jualan Sostel Mini
Ia mengaku, dapat menghasilkan omzet ratusan juta rupiah dalam momen tahun ajaran baru, khususnya tahun ini yang semakin banyak permintaannya. Berbagai model kerudung sekolah yang dipesan di sana seperti kerudung segi empat, kerudung langsung, rubuk, kerudung bordir, dan model wolsoom.
“Untuk omzet di momen tahun ajaran baru ini bisa sampai Rp250-300 juta. Jumlah permintaan pesanan itu tergantung banyaknya siswa di sekolahan yang order. Ada yang memesan dari ratusan hingga 4.000 kerudung per sekolah,” imbuhnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

