BETANEWS.ID, PATI – Sendang Watu Jago yang berada di Dukuh Garis, Desa Wukirsari, Kecamatan Tambakromo, Pati, terlihat dipenuhi dengan puluhan mesin pompa air dan pipa. Air dari sendang itu, dialirkan ke puluhan rumah warga di dukuh tersebut.
Meski begitu, air di sendang tersebut tak pernah kering walaupun musim kemarau seperti sekarang ini. Bahkan, warga di luar Dukuh Garis juga mengambil air dari sendang itu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: Melihat Sendang di Pati Selatan yang Dipenuhi Puluhan Mesin Pompa Air
Kepala Desa Wukirsari, Sulistiono mengatakan, mata air di Sendang Watu Jago sudah digunakan warga sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Sejak itu, warga disebut tidak pernah kekurangan air.
Padahal katanya, lebih dari 70 pompa menyedot air di Sendang Watu Jago. Sebanyak 400 warga juga memanfaatkan air sendang untuk kebutuhan sehari-hari.
Tak hanya Dukuh Garis, sejumlah warga Dukuh Gayem juga jauh-jauh ke Sendang Jago untuk mengambil air. Berbeda dengan warga Dukuh Garis yang menggunakan pompa air, warga Dukuh Gayem mengambil dengan menggunakan jerigen.
”Ndak pernah kering. Bahkan di Dukuh Gayem minta air ke sini untuk kebutuhan rumah tangga. Mereka membawa jeriken hingga pick up untuk mengambil air di sini,” ujar Sulistiono, Rabu (24/7/2024).
Sulistiono meyakini, keberadaan pohon besar yang ada di lokasi tersebut, membuat mata air di Sendang Watu Jago terus mengalir. Bahkan saat musim kemarau sekalipun.
”Ada sejumlah pohon, beringin, rao dan sejumlah pohon lainnya. Sebelum saya lahir sudah ada. dari nenek moyang sudah ada Lebih dari 100 tahun,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu warga Dukuh Gayem, Suyikno mengatakan, mata air Sendang Watu Jago memang menjadi andalannya untuk mencukupi kebutuhan air bersih rumah tangganya selama musim kemarau.
Baca Juga: Debit Waduk Gembong Susut hingga 2,8 Juta Metrer Kubik
Saat musim kemarau, sumber air di Dukuh Gayem sering kali habis dan tak mengeluarkan air. Berbeda saat musim hujan. Maka, ia harus rela menempuh jarak 2 km untuk mengambil air di Dukuh Garis.
”Biasanya saat kemarau bulan enam dan tujuh sumber airnya habis.Maka ambil air di Dukuh Garis. Biasanya, pagi ambil 4 jeriken sore ambil 6 jeriken untuk mencukupi kebutuhan masak, minum dan cuci. Kadang ada bantuan tangki air tapi ndak kebagian,” katanya.
Editor: Haikal Rosyada

