Cerita Perjuangan Hamdan di Usaha Konveksi yang Pernah Rugi hingga Rp300 Juta

BETANEWS.ID, KUDUS – Hamdan begitu kenyang dengan pasang surut usaha konveksi yang digelutinya sejak 2013 lalu. Bermodal tiga mesin jahit bekas hasil pinjaman Rp10 juta BTH Amanah, dia nekat merintis usaha meski tak pandai menjahit.

Warga Kedungdowo, Kaliwungu, Kudus itu menuturkan, pergulatan dengan usaha jahit berawal dari saat ia jadi guru di SDIT Lukman Al-Hakim Kudus. Waktu itu, ia dipercaya memesan seragam sekolah. Namun, setelah memesan beberapa kali ke sejumlah konveksi, Hamdan merasa seragamnya tak sesuai dengan ekspektasi.

“Karena hasil selalu tidak seperti ekpektasi, lalu saya mencoba membuat sendiri dengan merekrut tukang jahit dan tukang potong,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

-Advertisement-

Baca juga: Hamko Collection Kewalahan, Sampai Tolak Orderan 120 Ribu Seragam Sekolah

Melihat peluang yang besar, Hamdan mulai menerima pesanan dari teman-teman di komunitas Hidayatullah yang tersebar hampir di seluruh Indonesia. Saat ini, Hamko Collection telah memiliki 13 mesin jahit dan 13 karyawan yang bekerja baik secara harian, bulanan, maupun borongan.

“Pernah di titik terendah, waktu covid dan rugi sampai Rp300 juta. Karena selama dua tahun, sejak 2019-2021, biaya produksinya jauh lebih besar di operasional. Sehingga tidak mendapat keuntungan malah rugi. Sempat punya mobil Xenia untuk operasional, saya jual karena untuk kebutuhan, bertahan hidup dan menggaji karyawan,” ujar pria berusia 47 tahun itu.

Dalam kondisi itu, ia pantang menyerah. Dengan ketelatenan dan kesabarannya, hari demi hari, produksinya kembali stabil dan kini sudah mulai bisa bernafas lega. Sebab katanya, saat ini ia bisa meraup omzet hingga Rp380 juta hanya di momen tahun ajaran baru.

Alhamdulillah saat ini sudah berangsur-angsur membaik, pesanan juga semakin banyak. Untuk omzet pesanan yang datang di Juni dan Juli, dengan total Rp380 juta,” tuturnya.

Ia mengaku, jumlah pesanan yang masuk itu ada 7.000 stel seragam dari 35 sekolah. Pemesan datang dari berbagai daerah di eks Karesiden Pati dan luar Jawa. Menurutnya, kebanyakan pesanan itu datang dari sekolah dasar (SD), dengan jumlah mencapai 4.000 stel seragam.

Baca juga: Hamko Collection, Konveksi Seragam yang Pelanggannya Mayoritas dari Luar Jawa

“Kalau di sini memang melayani semua pesanan baik dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, hingga SMA. Sedangkan untuk pelanggan sebagian besar malah dari luar Jawa, seperti Balikpapan, Samarinda, Bontang, Lombok Timur, hingga Sorong Papua,” kata bapak 10 anak tersebut.

Bahkan saking ramainya, ia terpaksa menolak pesanan berjumlah 120 ribu stel seragam yang berasal dari Kalimantan Timur. Hal itu dikarenakan, modal dan pekerja yang terbatas, serta pesanan tersebut tidak dengan DP.

“Sampai saat ini masih mengerjakan pesanan orderan. Soalnya masih ada seribuan stel seragam yang masih belum ditangani,” imbuhnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER