BETANEWS.ID, KUDUS – Sore itu, sejumlah pedagang di depan Universitas Muria Kudus (UMK) tampak ramai pembeli. Satu di antaranya adalah lapak siomay milik Wincoro (22).
Tangannya terlihat cekatan memasukan pentol, kol, tahu dan pangsit ke dalam plastik. Terakhir, ia menuangkan saus sebelum diberikan kepada pembeli yang sudah antre.
Sambil melayani pembeli yang datang silih berganti, Wincoro sudi berbagi cerita tentang usaha yang ia beri nama Siomay Ngapak itu. Dia mengaku, usaha yang dimulai 2021 tersebut tidak pernah sepi pembeli.
Baca juga: Orang Kudus Mana yang Belum Nyobain Citul Viral di Getas Pejaten Ini?
“Alhamdulillah dagangan selalu habis. Biasanya kalau tidak habis di UMK saya pindah di sekitar brak Djarum Karang Bener, Kudus. Saya mulai berjualan itu siang habis zuhur, biasanya sampai habis sekitar pukul 17.00 WIB,” terangnya, beberapa waktu lalu.
Wincoro mengaku tidak mematok harga minimal. Hanya saja untuk satu butir pentol dijual dengan harga Rp500. Rata-rata mahasiswa membeli minimal Rp5.000.
“Kalau terjual semua biasanya bisa untung sekitar Rp100 ribu. Hasil dari berjualan ini, ya, cukup lah untuk menghidupi keluarga di kampung,” terang warga Purbalingga, Jawa Tengah itu.
Baca juga: Jangan Sampai Kalap, Japanese Food di Yakinmurah Harganya Mulai Seribuan
Wincoro menambahkan, dirinya meneruskan usaha siomay dari orang tua. Resepnya pun sudah teruji secara turun temurun.
”Siomay saya ini berbeda, lebih spesial karena bumbu kacangnya khas Purbalingga. Dengan ciri khas saus kacang yang kental dan pentol siomay menggunakan ikan tongkol segar,” bebernya.
Penulis: Linda Natalia, Mahasiswa Magang UMK
Editor: Ahmad Muhlisin

