Sementara, Ketua Tim Konservasi yang juga sebagai Pamong Budaya Ahli Pertama Museum dan Cagar Budaya (Unit Sangiran), Nina Iswati menuturkan, ada beberapa tahapan dalam melakukan konservasi koleksi. Pertama, tahapan dokumentasi awal untuk mengetahui kondisi awal fosil seperti apa, berat, warna, kekerasan fosil, dan metode apa yang harus mereka lakukan untuk konservasi tersebut.
“Jadi setelah rekam data, kita masuk ke bagian database untuk memasukan fosil yang akan kita konservasi itu ke data. Kemudian difoto menggunakan alas biru, lalu baru ke tahap konservasi,” ungkapnya.
Baca Juga: Waspada Musim Pancaroba, Ratusan Warga Kudus Terjangkit DBD
Untuk langkah konservasi, katanya, juga menyesuaikan dengan kondisi fosil yang ada. Treatment yang dilakukan juga berbeda, jika kerusakan pada fosil mengalami kerusakan berupa rapuh ataupun patah.
“Fosil yang rapuh akan dikuatkan kembali, menggunakan larutan paraloit b72. Sementara fosil patah akan dilakukan penyambungan dengan dexstone atau lem Korea,” ujarnya.
Setelah itu, akan dilakukan pembersihan pada fosil kering dan basah. Tahapan selanjutnya menganalisa masalah dan mencari penyebab kerusakan. Langkah terakhir dilakukan konservasi lanjutan (konsolidasi) dengan penimbangan berat akhir, dan rekam data akhir. (adv)
Editor: Haikal Rosyada

