BETANEWS.ID, KUDUS – Konservasi koleksi fosil purba koleksi dari Museum Situs Purbakala Patiayam adalah kegiatan tahunan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus. Konservasi dilakukan di ruang laboratorium Museum Situs Purbakala Patiayam, di lantai dua.
Koordinator Museum Situs Purbakala Patiayam Kudus, Jamin mengatakan, kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang terus dilakukan sejak 2021 hingga sekarang. Kegiatan itu digelar adanya dana alokasi khusus (DAK) Non Fisik dari Direktorat Kebudayaan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemedikbud Ristek).

“Kegiatan konservasi merupakan kegiatan dari dana alokasi khusus (DAK), diamna dalam pelaksanaannya kami bekerjasama dengan Unit Sangiran mulai Senin-Kamis (13-16/5/2024),” bebernya, Selasa (14/5/2024).
Baca Juga: Bawa Misi Toleransi, Pj Bupati Beri Wejangan Khusus ke Jemaah Calon Haji Kudus
Ia menjelaskan, dalam kegiatan konservasi koleksi tersebut, mulai dilakukan Senin-Kamis (13-16/5/2024) yang bekerjasama dengan dengan tim ahli dari Museum dan Cagar Budaya (Unit Sangiran). Target tahun 2024, ada sebanyak 35 fragmen atau fosil yang akan dilakukan konservasi atau pemeliharaan dan perawatan fosil.
Dari 35 fragmen yang akan dilakukan konservasi itu terdiri dari tiga sampai empat spesies hewan, meliputi bovidae, cervidae, fosil hiu, dan fosil kerang. Dengan adanya kegiatan itu, bertujuan untuk merawat dan memelihara koleksi, juga sebagai bagian untuk mendaftarkan fosil ke registrasi nasional.
“Terdapat ada tiga atau empat spesies yang terwakili dari beberapa fragmen. Jadi semua perwakilan lingkungan, mulai hewan darat, laut, dan rawa, semuanya ada. Karena memang kita fokusnya di tahunnya ini, semua lingkungan ada,” tuturnya.
Ia menuturkan, sebanyak 35 fragmen tersebut meliputi, gading gajah, tanduk banteng, femur banteng, rahang bawah bovidae, tulang rusuk gajah, tulang belakang bovidae, eskapula bovidae, femur bovidae, gigi bagian atas gajah, tulang rusuk gajah, olna gajah (tulang penyambung belakang), gigi hiu, dan kerang purba.
Baca juga: Kepemilikan Lahan Jadi Hambatan Museum Situs Patiayam Kudus Mendunia
Menurutnya, puluhan fragmen yang dikonservasi tersebut, kondisi yang paling parah adalah fragmen gajah. Dimana terdapat pecahan fosil yang mengalami kerusakan.
“Harapan kami, mudah-mudahan kegiatan ini bisa berkelanjutan setiap tahunnya. Karena dengan adanya kegiatan ini nanti bisa memperjelas temuan fosil yang ada di Museum Situs Purbakala Patiayam,” jelasnya.

