Ia juga menjelaskan, bahwa hafalan dilakukan beberapa waktu dalam sehari, yakni setelah jemaah zuhur, magrib, dan subuh dengan metode setoran kepada ustaz dan ustazah.
Sementara itu, Luthfiah, satu di antara sejumlah pengurus pondok, juga membagikan cerita tentang aktivitas santri di sana. Ia menjelaskan, bahwa santri di Ponpes Roudhotul Tholibin banyak yang masih menempuh pendidikan formal. Meski begitu, para santri diminta untuk pandai membagi waktu dan tetap mengikuti peraturan yang ada.
“Mayoritas masih sekolah MTS dan MA. Sekolahannya ada di belakang pondok, namun sudah beda yayasan,” katanya.
Baca juga: Sejarah Kiai Telingsing, Ulama Tionghoa Penyebar Agama Islam di Kudus
Terkait jatah makan, di Ponpes Roudhotul Tholibin mendapat jatah dua kali sehari, yaitu makan siang dan makan malam. Sedangkan untuk sarapan, para santri bisa beli di warung milik warga sekitar.
Sementara untuk izin jenguk, wali santri dipersilahkan melakukan kunjungan satu kali dalam sebulan, dan dijadwalkan setiap Jumat pada pekan pertama setiap bulannya.
Penulis: Zuhaira Millatina, Mahasiswa Magang Unisnu
Editor: Ahmad Rosyidi

