BETANEWS.ID, JEPARA – Di tengah melonjaknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menerima bantuan 750 buah Rapid Dengue Test (RDT) dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah.
Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan (Pelkes & SDK), Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara, Vita Ratih Nugraheni, menjelaskan, alat tes berjenis Virotec Dengue Combo itu berfungsi melakukan diagnosis awal terhadap infeksi virus dengue melalui deteksi antigen non-struktural (NS1) dan antibodi IgG/IgM.
“Sampel darah yang sudah diambil nanti kan dipisahkan bagian serumnya, dan serum ini yang kemudian dites. Dari mulai ambil darah sampai keluar hasilnya, ya, sekitar 10-15 menit. Itu sudah bisa keluar hasil apakah positif DBD atau tidak,” jelasnya di Kantor DKK Jepara, Kamis (7/3/2024).
Baca juga: Tingginya Kasus DBD di Jepara jadi Isu Nasional, Kemenkes Sampai Turun Tangan
Bantuan alat tersebut selanjutnya didistribusikan kepada 22 Puskesmas melalui Instalasi Farmasi Kabupaten (IFK) Jepara. Karena jumlahnya terbatas, pihaknya akan kembali berkirim surat kepada Dinkes Provinsi Jawa Tengah untuk meminta tambahan.
“Saat ini yang kita prioritaskan ke Puskesmas dulu, karena yang paling dasar dalam melayani masyarakat. Ke depan kita akan berkoordinasi kembali supaya alat ini juga bisa kita kirim ke Rumah Sakit yang ada di Jepara,” katanya.
Kepala Bagian Tata Usaha (TU) Puskesmas Kedung 1, Indah Fitrianingsih, mengatakan, tempatnya kini punya 85 RDT. Rinciannya, 35 buah stok tahun lalu dan 50nya stok yang baru diterima Jumat lalu.
“Kemarin kita dapat 5 boks dengan isi 10 buah. Kemudian masih ada sisa 5 boks juga dari tahun lalu, karena sebenarnya setiap tahun ada bantuan alat ini. Tapi karena tahun kemarin kasusnya tidak banyak jadi stoknya masih ada,” katanya.
Baca juga: Korban Meninggal Sudah 20, Upaya Pencegahan DBD di Jepara Kurang Optimal
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa tidak semua pasien akan dites dengan alat tersebut. Hanya pasien yang mengalami penurunan trombositopeni yang akan diprioritaskan.
“Tidak semua pasien kita tes, yang kita prioritaskan terutama yang rawat inap. Karena kita kan bisa pantau mana yang mengalami penurunan trombositopeni. Biasanya yang penurunan trombositopeni-nya tajam, kalau dites positif. Dari 15 yang sudah kita tes, hanya tiga yang positif DBD,” jelasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

