BETANEWS.ID, KUDUS – Tradisi Dandangan 2024 di Kabupaten Kudus saat ini telah selesai digelar. Berbagai hingar bingar, keseruan, hingga keramaian tradisi tahunan yang berlangsung 1-11 Maret itu cukup memberi kesan yang meriah.
Meski begitu, ada sisi pedagang yang bukanya untung, tapi malah buntung dalam berjualan di tradisi menyambut datangnya bulan suci Ramadhan di Kudus itu. Dia adalah Aisyah, pedagang remitan atau gerabah khas Mayong, Jepara.
Baca Juga: Angka Stunting di Kudus Diklaim Turun dari 19 Jadi 16,8 Persen di 2023
Saat ditemui di stan yang berada di bagian ujung barat, Asiyah tampak lesu melihat kondisi lapak tidak ramai seperti tahun sebelumnya. Bahkan dirinya tahun ini mengaku rugi berjualan di Tradisi Dandangan. Dia juga tidak mengetahui secara pasti, apa penyebab lesunya penjualan di tahun ini.
“Jualan di sini tidak seramai di jembatan Kali Gelis. Karena mungkin di sana lebih panjang (4×8 meter). Kalau di sini cuma 3 meter persegi. Sedangkan harganya mahal ini, harga sewa satu stand sampai Rp1,5 juta,” bebernya, Selasa (12/3/2024).
Warga Mayong, Jepara, itu menjelaskan, dalam sehari di lapaknya tak mesti ada pembeli yang mampir. Kondisi itu diperparah karena curah hujan yang mengguyur Kabupaten Kudus dan listrik padam selama dua sampai tiga hari, perayaan Tradisi Dandangan tahun ini. Sehingga pendapatan yang ditargetkan, setidaknya bisa balik modal, rupanya sulit dicapai.
“Sehari biasanya dapat Rp500 ribu, kemarin pas hujan itu malah gak dapat uang sama sekali. Kalau dulu (tahun kemarin) masih termasuk bagus, sehari Rp800 ribu, kalau ramai ya bisa Rp1 juta. Tapi tahun ini tidak bisa seperti tahun lalu,” ungkapnya.
Aisyah yang membawa barang dagangan berupa remitan sekitar seribuan barang dengan modal Rp5 juta, termasuk sewa tempat. Barang dagangan yang ia beli dari produksi remitan itu menurutnya harganya naik.
“Tahun ini gak masuk. Kemarin malam Senin lumayan ramai, tapi tidak ramai banget. Dua hari hujan (Jumat-Sabtu), mati lampu juga. Mungkin seandainya tidak hujan ya penjualan lumayan lah,” tutur wanita berusia 47 tahun itu.
Baca Juga: PKL Kudus Keluhkan Kelangkaan Gas Melon di Awal Puasa
Bahkan, Aisyah mengaku minus berjualan di Tradisi Dandangan Kudus tahun ini. Meski begitu, dia menyadari bahwa pekerjaann yang sudah dilakukan bertahun-tahun itu kadang dapat untung, kadang juga rugi seperti apa yang dirasakan saat ini.
“Ini minus sampai hampir setengah (dari modal). Soalnya seperti lampu (penerangan stand) kan bayar sendiri. Karena pekerjaannya memang hanya ini, ya tetap dijalani. Kadang ya untung, tapi tahun ini tidak seramai tahun kemarin,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

