BETANEWS.ID, JEPARA – Sukati (55) salah satu pengrajin remitan atau mainan dari tanah liat Dukuh Krajan, Rt 1/ RW 4, Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara kebanjiran order dari tradisi dandangan di Kabupaten Kudus.
Untuk memenuhi permintaan pelanggan, ia yang setiap harinya hanya bekerja sendiri kemudian merekrut satu orang untuk membantu mbubut atau membentuk tanah liat menjadi kerajinan gerabah.
Baca Juga: Sambut Ramadan, Baratan Ratu Kalinyamat Angkat ‘Siti Inggil’
“Iya tambah (pesanan) pas ada dandangan, satu bakol itu biasanya pesen nyampe seribu warna (jenis),” katanya pada Senin (4/3/20224) di Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara.
Terdapat 15 jenis remitan yang ia produksi. Yaitu pawon, kendil, kuali, tutup kuali, dandang, gentong, wajan, senek atau tempat nasi, tutup senek, teko, cangkir, gelas, piring, mangkok, dan cowek atau cobek.
Dalam sehari ia rata-rata mampu membuat 500 jenis remitan berbagai bentuk, mulai dari pukul 07.00 WIB sampai menjelang adzan Dhuhur.
Karena tidak mengecer, remitan buatannya ia jual dengan harga Rp300 ribu per seribu buah atau jenis yang baru setengah matang atau belum diberi warna. Sedangkan jika sudah diberi warna harganya naik menjadi Rp1 juta per seribu jenis.
Saat ini ia memiliki tiga pelanggan tetap yang memesan remitan buatannya. Remitan tersebut biasanya sudah dipesan dua bulan sebelum adanya tradisi Dandangan. Rata-rata pedagang atau pelanggan tetapnya berasal dari daerah Mayong Lor sendiri.
Baca Juga: PPP Unggul di Jepara, PKB Tersingkir dari Kursi Wakil Dewan
Selain membuat remitan, ia juga membuat kendil yang digunakan sebagai tempat mengubur ari-ari bayi yang baru lahir dan juga vas bunga kecil. Meskipun ia mengaku juga terbiasa menerima pesanan dengan bentuk sesuai keinginan pelanggan.
“Bakul (pembeli)-nya ada banyak, soale bikinnya ngga cuma remitan, ada kendil itu bakule dua, terus yang pot (vas bunga) ada empat,” ujar perempuan yang menjadi pengrajin remitan sejak kelas dua SD tersebut.
Editor: Haikal Rosyada

